1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar


Minggu ini saya sudah merencanakan kalau minggu ini merupakan minggu yang penuh dengan sukacita buat saya dan beberapa teman, khususnya Cah Andong. Malam ini, jam setengah tujuh malam bertempat di JEC, kami akan meramaikan Festival Komputer Indonesia dengan mengadakan talkshow (silahkan lihat posternya di postingan yang ini). Selesainya dari tempat ini, kami akan langsung bertolak menuju Semarang untuk menghadiri resepsi pernikahan teman kami , pasangan blogger, Fany (Faniez) dan Yudhis (Tukang Kopi) pada hari Sabtu. Selamat yah, buat kalian berdua… :)

Bisa bertemu langsung dengan kedua mempelai dan memberikan ucapan langsung merupakan puncak dari semua sukacita saya selama seminggu ini. Bertemu dengan Bapak dan Ibu yang sudah berapa bulan tak bersua serta beberapa teman yang juga blogger dari kota lain, pastinya akan melengkapi rencana kebahagiaan saya di minggu ini.

Tapi sayang seribu kali sayang, sebelum Jum’at tiba, saya harus menerima berita sedih sekaligus senang yang sedikit mengganggu rencana yang sudah saya susun sejak awal minggu. Siang itu, saya harus mengetahui bahwa mulai minggu depan kelas internasional angkatan 51 MM UGM harus melanjutkan kuliah dengan jumlah 15 mahasiswa saja. Seorang teman harus mengundurkan diri dari kuliah karena diterima bekerja dan harus pindah ke ibukota yang kejam itu *bener ga sih?*

Dua minggu sebelumnya kami memang mengetahui bahwa ia menjalani beberapa tes terkait pekerjaan yang diterimanya sekarang. Tapi kami mengira bahwa ia akan menyelesaikan kuliah trimester pertama ini. Tapi sekarang, jangankan diselesaikan, ujian mid belum terlaksana, ia pun meninggalkan kami di kelas yang semakin hari rasanya semakin sunyi itu. Jumlah total mahasiswa yang hanya 16 orang ini memang membuat kami selalu mengetahui kabar satu sama lain jika ada yang berhalangan hadir di kelas. Tak perlu waktu lama untuk membuat kami menjadi dekat satu dengan yang lain, mengetahui kebiasaan satu sama lain.

Ah, sudahlah. Saya tidak mau berlama-lama bersedih, toh suatu saat kita pasti bertemu lagi. Seperti janjinya tadi pada kami untuk berkumpul pada saat pernikahannya nanti *katanya tahun depan* :D

Buat kamu, Galih Budi Utomo. Seorang teman yang biasanya menjadi indikator telat di kelas. Teman yang biasanya rajin menjawab pertanyaan-pertanyaan di kelas Marketing Management *dengan semangat ’45 menghadapi serangan-serangan sang Profesor*. Teman yang paling sering menjebak seluruh isi kelas dan berulah dengan tampang dan cara bicara yang sangat meyakinkan ketika ia membicarakan sesuatu hal yang sebenarnya tidak ada *pentung-pentung Galih*. Seorang teman yang sukanya usil dengan menukar name tag teman-teman tak peduli walaupun kuliah sedang berlangsung. Pesan saya, baik-baik kamu di ibukota yang kejam itu. Sukses selalu… ;)

Galih (baris depan, ke-tiga dari sebelah kiri)

Galih (baris depan, ke-tiga dari sebelah kiri)

We’ll be missing you… :)

img_5259

Sudah lama saya ga memperbaharui isi blog saya ini, sekalinya posting isinya narsis :mrgreen:

Saya ga mau banyak-banyak bicara yang ga penting, langsung aja…

Buat kalian yang mau ngobrol-ngobrol bersama kami anak-anak CahAndong, yuk mari, dateng ke talkshow kami:

Sampai ketemu di sana yaaaa… ;)

Setelah sebulan menghabiskan liburan trimester dengan bermalas-malasan, nongkrongin XXI (entah itu nonton ataupun nge-game) berdua dengan Tuan, dan pulang ke rumah di lampung untuk kangen-kangenan, akhirnya saya menyentuh blog ini lagi :)

Sebenarnya banyak sekali yang ingin saya ceritakan dari liburan kemarin, mulai dari keranjingan nongkrongin XXI, si Tuan yang sempat sakit seminggu sebelum saya pulang ke rumah, saya yang menghabiskan hampir sebagian besar waktu liburan di rumah bersama si Setan kecil yang semakin pintar dan semakin lincah, sampai insiden tabrakan dua motor yang menyebabkan tabrakan beruntun karena pada akhirnya menabrak mobil saya dari belakang *gondok banget*. Tapi berhubung postingan ini akan sangat panjang dan membosankan, saya memutuskan untuk tidak menulisnya. Jika kalian ingin mengetahui detail ceritanya, silahkan kirim private message untuk saya, dan saya akan dengan sukarela menceritakannya pada kalian semua ;)

Lalu, saya akan bercerita tentang apa? Berhubung saya baru saja memulai kuliah reguler di MM UGM, saya akan menceritakan sedikit apa yang saya alami selama dua minggu terakhir ini.

Setelah menyelesaikan kuliah Pra-MM alias kuliah persiapan sebelum mengikuti program MM selama 4 bulan kemarin, akhirnya saya memulai juga kuliah yang sebenarnya. Mengapa saya bilang kuliah sebenarnya, karena, tidak seperti trimester (trimester=caturwulan) pra-MM kemarin yang nilainya tidak berpengaruh pada IPK, mulai trimester ini nilai yang saya peroleh akan diakumulasikan ke dalam IPK yang akan tertera di transkrip nilai nanti. Singkat kata singkat cerita, intinya saya tidak bisa sama santainya pada saat saya melewati trimester pra-MM kemarin.

Atas kemauan papa, saya mengambil kelas internasional di program MM ini. Kelas ini mengharuskan semua aktivitas, baik pembelajaran di kelas maupun tugas-tugas yang diberikan harus saya selesaikan menggunakan bahasa Inggris. Pertemuan pertama hanya diisi dengan penjelasan silabus dan overview mata kuliah. Kebanyakan kelas mengharuskan untuk membuat big paper yang harus dikumpulkan pada akhir pertemuan sebelum ujian akhir, dalam bahasa Inggris tentunya. Belum lagi presentasi kelas :( yang bahkan ada mata kuliah yang mengharuskan saya melakukan presentasi secara individu, dikarenakan jumlah mahasiswa hanya 16 orang. Di dua kelas bilingual, mahasiswa masing-masing kelas berjumlah lebih dari 30 orang, sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan presentasi individu.

Seminggu pertama saya melewati enam kelas dengan penuh keterpaksaan. Hal ini disebabkan kepanikan saya yang luar biasa berkaitan dengan “using English”. Saya memang telah melewati persyaratan nilai TOEFL minimum yang diminta lembaga untuk mengikuti kelas internasional, tapi itu bukan berarti kemampuan bahasa Inggris saya sudah casciscus. Minggu itu saya ingin sekali pindah ke kelas bilingual, tapi saya tahu hal itu tidak akan mungkin bisa saya lakukan, karena papa pasti akan marah besar jika saya melakukannya. Jadi, mau tak mau saya harus tetap berada di kelas tersebut.

Trimester ini saya harus melewati 6 kelas, Operation Management, Organizational Behavior, Business Law, Financial Management, Marketing Management, dan Business Ethics. Ditambah lagi kelas “Managerial and Communication Skill” dan beberapa kuliah dengan dosen tamu. See!!! I should study hard if I want to get good grades :((

Minggu ini merupakan minggu ke-dua kuliah di trimester 1 ini. Kepanikan saya sudah jauh berkurang karena ternyata saya bisa (baca:lumayan) berhasil menyelesaikan kelas dan mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan di minggu kedua ini dengan bantuan google translate dan Longman Dictionary of contemporary English. :D Beruntungnya saya, selama di kelas saya masih bisa memahami apa yang disampaikan oleh dosen, dan mereka juga tidak terlalu memperdulikan bahasa Inggris saya yang belepotan pada saat saya berbicara. Selama saya aktif berpartisipasi dengan menjawab dan bertanya di kelas, mereka akan sangat senang. :D Dan akhirnya, saya berhasil melewati satu minggu lagi di kelas internasional ini ;)

Begitulah sekelumit cerita perkuliahan saya selama dua minggu ini. Saya masih harus menghadapi program ini kurang lebih 1,5 tahun lagi, saya berharap bisa melaluinya dengan semangat :D Doakan saya ;)

easter2007

gambar dipinjem dari sini

Apa arti Paskah buat kamu? Adakah sepenggal cerita istimewa tentang Paskah, sehingga membuatmu tak bisa melupakan hari itu?

Buat saya, Paskah akan selalu membawa ingatan saya kembali ke beberapa belas tahun yang lalu. Di satu siang yang tak begitu terik, percakapan kecil terjadi antara saya dan mama yang kala itu menemani saya untuk tidur siang.

Saya     : Ma, kenapa utet dikasih nama Novita Kristiana Hutabarat?
Mama : Novita itu karena kamu lahir bulan November. Kristiana, karena kamu akan bertumbuh dalam Kristen. Hutabarat itu kan marga papa.
Saya   : Ooohhh… Terus kenapa kakak namanya Erlinawati Pascarina Hutabarat? Kan kakak lahirnya bulan April, namanya koq ga ada April-nya?
Mama  : Nama Erlinawati itu ya dapet begitu aja. Pascarina itu karena dulu pas kakak lahir berdekatan dengan hari Paskah.

Dan obrolan itu pun berlanjut ke hal-hal kecil tentang aktivitas saya di sekolah. Lalu, apa yang saya ingat dari obrolan singkat itu setelahnya? Sejak saat itu setiap hari Paskah tiba, saya selalu teringat kakak. Tidak pernah terlewatkan, wajahnya selalu terlintas di benak saya, bahkan sampai hari ini.

Hal lain yang membuat Paskah begitu berarti buat saya karena Paskah merupakan pertemuan terakhir saya dengan kakak. Bulan April 2004, saya melaksanakan baptis sidi tepat seminggu sebelum hari Paskah. Kakak yang memang kebetulan libur kuliah pun pulang ke rumah untuk hadir dalam baptis sidi tersebut. Seperti biasa, ia pulang dengan membawa keriangan yang luar biasa sehingga rumah pun terasa lebih ramai.

Malam itu, pada saat ia akan kembali ke Jakarta, saya tidak memberikan peluk hangat atau bahkan merelakan pipi ini untuk diciumnya, karena saya yakin dalam sebulan ke depan kami akan bertemu lagi. Ia hanya tersenyum lebar memperlihatkan sederet gigi-gigi putihnya itu. Saya tidak pernah menyangka, senyum yang saya lihat hari itu merupakan yang terakhir saya lihat.

Jumat, 21 Mei 2004

Malam itu diadakan ibadah penghiburan di rumah. Suasana rumah memang masih menunjukkan kesedihan yang luar biasa karena keluarga ini baru saja kehilangan seorang anak perempuan yang sangat dikasihi. Saya berusaha duduk tegar di luar rumah bersama teman-teman yang tak henti menghibur karena saya selalu menitikkan air mata. Khotbah pendeta malam itu pun tak satu kalimat pun singgah di kepala saya. Nyanyi-nyanyian kidung jemaat terdengar datar di telinga saya. Saya merasa kosong hingga malam itu.

Sepulangnya tamu-tamu, saya hanya duduk diam di beranda atas rumah saya. Tak ada yang saya lakukan sampai setengah jam, sampai saya melihat tata ibadah penghiburan tadi. Saya membuka halaman demi halaman, dan menemukan satu puisi di sana. Barisan kata-kata itu menghentak saya, mencoba mengajak saya untuk dapat merelakan kepergiannya, demi kehidupan yang lebih baik lagi bersamaNya…

Maut itu Untung

Kematian adalah duka
merobek, mencabik
menyelesaikan kesementaraan;
pisah terakhir tak lagi berujung hampa
dalam hidup di bumi ini;

Kematian adalah ratapan
raung tangis kehilangan

karena yang pergi tak kembali lagi
di kekinian waktu yang selalu memburu;

Kematian adalah kepunahan
jasad fana keinsanian
yang berasal dari debu tanah
melenyap seperti uap;

Tapi bagi kita,
maut adalah untung:
yang ditabur dalam kebinasaan,
dihidupkan dalam kekekalan,
disemai dalam kehinaan,
ditumbuhkan dalam kemuliaan,
ditanam dalam kelemahan,
dibangkitkan dalam kekuatan;
hanya dalam sekejap saja
semua akan diubah
kita,
kau dan aku
pewaris hidup kekal;
yang tersisa hanya cinta!

-Dr. Fridolin Ukur-

Teringat tulisan Tuan yang ini, saya jadi teringat dua orang perempuan yang saya kenal hampir delapan tahun ini. Lama? Ah, tidak juga. Kami memang dipertemukan pada saat pertama kali kami merasakan indahnya menjadi seorang siswi SMA, tapi saya merasa peristiwa itu baru terjadi setahun yang lalu.

Diah Lusita Sari dan Diaswuri Prawulaningsih. Dua perempuan ini yang membuat dunia SMA saya menjadi lebih berwarna, bahkan sampai detik ini. Saya tidak pernah menyangka akan sedekat ini dengan mereka berdua. Tidak hanya mereka, bahkan orang tua kami pun saling mengenal. Saling kunjung mengunjungi jika hari raya masing-masing tiba.

Tahun pertama di SMA, saya memang tidak sekelas dengan mereka berdua, akan tetapi kami saling mengenal satu sama lain. Hal ini disebabkan karena kelas kami yang bersebelahan, membuat kami sering bertemu di depan kelas ketika kami menghabiskan jam istirahat. Pada tahun itu, kami hanya sebatas bertegur sapa dan tak banyak waktu kami habiskan bersama.

Memasuki tahun kedua, saya terdaftar pada satu kelas yang hampir semua muridnya bukan berasal dari kelas saya sebelumnya. Bingung? Pastinya! Karena pada hari pertama di kelas 2 tersebut saya harus menentukan siapa yang akan duduk satu meja dengan saya selama satu tahun ke depan. Sekali salah pilih, maka hidup saya selama satu tahun ke depan akan suram *maaf, sepertinya ini agak berlebihan* :P

Pagi itu saya datang agak terlambat. Teman-teman saya yang lain telah menemukan tempat duduk paling strategis menurut mereka masing-masing, ditambah lagi teman satu meja sudah mereka dapatkan. Hal pertama yang saya lakukan pagi itu adalah mencari tempat duduk. Setelah mendapatkan tempat duduk, lantas apa? Harusnya saya mencari teman satu meja, tapi berhubung belum ada wajah yang saya kenal di ruangan itu. Ditambah lagi, mereka semua sudah memiliki teman satu meja.

Saya yang memang sedari dulu mudah panik, mulai bingung mencari siapa yang akan mengisi hari-hari saya selama tahun ke depan. Dias yang mengetahui kepanikan saya, mulai menyapa.

“Lo belum dapet temen, bew?” *’bew’, kependekan dari Jebew, nama panggilan teman-teman SMA saya*

“Eerrr… Belum. Bingung nih…” saya menjawabnya sambil meringis *baca:berharap dicarikan teman*

“Tunggu aja. Lusi bentar lagi juga dateng, kayaknya dia belum dapet temen juga deh.”

Wuuuiiiihhh… Hati saya langsung adem ayem mendengarnya. Senyum mengembang dengan lebarnya di wajah saya. Tak lama, datang juga perempuan yang saya nanti-nanti. Tanpa babibu, langsung saya tanya apakah dia bersedia duduk satu meja dengan saya. Karena tidak ada pilihan lain, jadilah dia duduk dengan saya selama satu tahun itu.

Kedekatan saya dengan Dias dan Lusi berawal dari satu aktivitas yang kami ikuti bersama di sekolah. Panjat dinding. Eits, jangan tertawa dulu. Tentu saja ini bukan panjat dinding yang bertujuan agar siswa-siswi semakin mahir melompati tembok belakang sekolah untuk bolos. Ini adalah olahraga panjat dinding yang kala itu sedang mencari atlit-atlit unutk diberangkatkan pada PRAPON 2004 di Palembang. Berhubung pada saat itu kami bertiga penasaran bagaimana rasanya memanjat tebing-tebing tiruan itu, jadilah kami tercebur dalam kegiatan itu sampai pertengahan kelas 3.

Satu tahun yang saya kira berjalan dengan baik, ternyata tak semulus yang saya harapkan. Saya dan Lusi beberapa terlibat perselisihan kecil yang membuat kami saling berdiam diri. Akan tetapi, ini tidak berlangsung lama. Karena memang masalah yang timbul hanya sebatas salah paham. Jika kami berdua sudah saling diam, tinggalah Dias yang akan repot mendamaikan kami.

Tahun ketiga, saya dan Lusi mendapatkan kelas yang sama, jadi tak pelak lagi kami pun duduk bersama. Sayang, di tahun terakhir ini kami berpisah kelas dengan Dias. Tapi ini bukan berarti kami tidak bisa dekat, justru sebaliknya. Kami lebih sering bersama, ke kantin bersama, pulang sekolah bersama, dan tentu saja bolos bersama. :mrgreen:

Kuliah membuat kami semakin terpisah lebih jauh. Terlebih lagi, saya harus menempuh kuliah di Jogja *sampai dua tahun ke depan nanti*. Kami hilang kontak? Tentu saja tidak. Apa gunanya teknologi canggih yang namanya telpon genggam itu :D Hampir semua perbincangan kami lakukan melalui telpon, dan pesan singkat. Jika saya pulang ke rumah, sudah dapat dipastikan, mereka berdua akan menginap di rumah saya, dan kami pun menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling bercerita *bergosip* tentang diri masing-masing. :P

Itulah mereka, yang sampai hari ini selalu ada buat saya, begitu juga sebaliknya. Saya berharap, kami bisa terus berjodoh sampai kami dipisahkan kematian. :)