Kemarin saya pergi keluar dengan dua teman kuliah S-1 saya. Sebut saja Dino dan Deni. Saya sengaja tidak memberitahukan nama asli mereka, karena mungkin mereka tidak ingin nama aslinya disebut.
Siang itu kami mencari tempat yang nyaman untuk berbincang dan makan siang. Kami berbincang banyak hal. Namun, pembicaraan kami kebanyakan mengarah ke kisah asmara kami masing-masing, serta kisah asmara teman kami yang lain, sebut saja Didi.
Dino. Di bulan Desember kemarin, pernikahannya dibatalkan. Pembatalan ini merupakan yang kedua kalinya. Pembatalan pertama dikarenakan sang kekasih yang merasa belum siap untuk menikah. Pada saat itu rencana pernikahan baru mulai disiapkan. Pembatalan kedua dikarenakan keluarga dari pihak pria yang tiba-tiba tidak menyetujui. Padahal, rencana pernikahan mereka sudah mendekati selesai. Undangan sudah dicetak, namun belum disebar, katering dan gedung telah dipesan, dan tak ketinggalan cincin kawin pun telah dibeli.
Sedih? Tentu saja. Karena hubungan yang telah dibina lebih dari 4 tahun itu kandas begitu saja. Akhirnya, Dino dan kekasihnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Sekarang ini, Dino harus menghadapi keluarganya yang mencoba menjodohkannya dengan seorang wanita supaya ia dapat melupakan mantan kekasihnya. Saya hanya berusaha menghibur dan menguatkan hatinya supaya ia tidak terlalu larut dalam kesedihan. Dan ia pun hanya berkomentar , “Ya ga semudah itu, Tet…”
Deni. Tak banyak kisah asmara darinya. Ia tak mudah mendapatkan wanita yang cocok dengan hatinya. Selama 4 tahun saya mengenalnya, ia memang mendekati beberapa wanita. Dan yang saya tahu hanya seorang wanita yang sempat menjadi kekasih hatinya, dan itupun hanya bertahan satu bulan.
Didi. Siang itu, Dino dan Deni banyak menceritakan kisah asmara Didi. Tentang kegilaan Didi terhadap sang kekasih, sehingga ia rela untuk melakukan apa saja demi mempertahankan hubungannya. Saya dipertunjukkan sebuah video oleh Dino dan Deni. Di dalam video itu saya melihat Didi berjalan-jalan di dalam Ambarukmo Plaza dengan sebuah papan di dadanya yang berisi foto-foto Didi dan kekasihnya serta tulisan-tulisan yang menggambarkan bahwa Didi sangat menyayangi kekasihnya itu.
Saya melihat wajah Didi di dalam video itu sangat tertekan. Ia melakukan itu hanya untuk mendapatkan maaf dari kekasihnya. Saya tidak sampai hati untuk melihat video itu sampai selesai. Dino dan Deni juga menceritakan bahwa Didi pernah membeli fastfood dengan hanya menggunakan celana boxer sambil berjoget-joget di depan orang-orang. Dan lagi-lagi, semua itu dilakukan hanya untuk mendapatkan kata maaf.
Saya sungguh tidak mengerti apa yang terjadi dengan Didi. Saya tidak bisa mendapatkan alasan yang paling masuk akal mengapa ia bisa melakukan hal-hal yang menurut saya sangat konyol untuk dilakukan. Ditambah lagi penjelasan Dino dan Deni tentang kekasih Didi yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh berkomitmen dengan Didi, namun Didi tetap mempertahankannya. Entahlah, otak dan hati Didi perlu disinkronisasi sepertinya.
Sedangkan saya sendiri, tak banyak kisah yang saya ceritakan. Cukuplah mereka tahu kalau kini saya sangat beruntung memiliki Tuan di hati saya. Dan hanya dengan melihat air muka saya, merekapun mengiyakan pernyataan saya itu.
Itulah kisah asmara saya dan teman-teman saya, yang terangkum dalam 6 jam pertemuan saya dengan Dino dan Deni. Bagaimana kisah asmara kalian?