1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar


Angin bertiup tidak terlalu kencang. Meskipun ini musim penghujan, tak tampak awan yang bermuram durja. Perempuan rembulan memutuskan untuk menikmati sore di taman kota.

Di bangku taman, tempat ia duduk, ia menemukan satu bait kata-kata tertulis di sana.

Malam…
Malamku…
Beraja, di mana kamu?
Jangan tinggalkan aku…
Rasanya sepi sekali di sini!!!

Ia terdiam, menyandarkan daksa ke bangku taman. Sekali lagi, ia mencoba mengulangi membaca kata-kata itu. Kali ini tidak hanya dalam hati, perlahan ia mengeluarkan suaranya yang lembut.

Malam…
Malamku…
Beraja, di mana kamu?
Jangan tinggalkan aku…
Rasanya sepi sekali di sini!!!

Perempuan rembulan menerawang jauh. Dulu sekali, ia pernah bertemu dengan seorang lelaki pencinta ilalang. Tak banyak kata saat itu, hanya sapa biasa dan tatapan mata yang beradu. Tatap mata yang selalu membuatnya merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik dalam perutnya, dan membuatnya tersenyum.

Bulan berganti, entah sudah berapa purnama terlewati. Lelaki pencinta ilalang datang menghampiri, menawarkan perempuan rembulan satu tempat layak huni di hatinya.

“Maukah kau menjadi rembulan di setiap malamku, wahai juwita? Menyinariku hingga malam takkan lagi pernah hadir untuk kita.”

Sejak itu, perempuan rembulan tidak pernah melewati malam-malamnya sendiri. Selalu ada lelaki pencinta ilalang yang hadir dengan berbagai persediaan dongeng untuk mengantarkannya ke peraduan.

Hingga di satu malam, di mana ratusan purnama sudah berlalu dan ribuan kisah sudah ter-rajut. Perempuan rembulan tidak dapat menemukan lelaki pencinta ilalang. Lelaki itu telah beranjak pergi bersama dengan berlalunya purnama di malam yang lengas itu.

“Malam masih hadir untuk kita, mengapa engkau pergi?” Perempuan rembulan hanya bertanya dalam hati.

Di bangku taman kota yang termakan usia, perempuan rembulan itu masih duduk menikmati senja yang hampir habis. Ia tersenyum menghibur diri, dan meyakinkan hati bahwa lelaki pencinta ilalang takkan pernah kembali.

Tags: , , , , , , ,

7 Responses to “Rembulan”

  1. Chic Says:

    ah rasa memang suatu yang abstrak… :P

  2. ndoro kakung Says:

    bayar lunas ya? hahaha … keren! *tepuk tangan*

  3. yati Says:

    keren… :)

  4. ichanx Says:

    kalo ngeliat bulan, saya biasa berubah jadi manusia serigala

  5. sarah Says:

    Daleeeem……banget euy.

    ” Beraja, dimana kamu? “

  6. tea! Says:

    hmmm…. saya kok jadi sedih yaa…

  7. the_clik Says:

    kapan terjadi bulan purnama ha ha ha ha . . . . . .

    manusi srigala muncul

Leave a Reply

;)) :roll: :sleepy: :] :lol: :twisted: :D :* -.- more »