15 August 2009 - 19:23
Nina Need You
Saya baru saja menerima email dari seorang sahabat. Saya terkejut. Tak biasanya ia mengirim email selarut ini. Biasanya dia sudah tidur nyenyak, larut bersama mimpi-mimpi yang sering diceritakannya pada saya.
I need someone! I really need a shoulder to cry on ![]()
I really hate people who aggravate the situation, although she knew the situation there is not good.
I really hate people who make him feel guilty and cry.
And the most I hate is people who try to damage the happiness of others.
Saya bergegas mengambil handphone, mencari namanya. Kita panggil saja, Nina.
Saya hanya menunggu sekali nada panggil sebelum mendengar tangisannya. Saya biarkan, saya dengarkan Nina menangis, karena saya tahu teman saya itu tidak akan berbicara sampai dia benar-benar bisa menghentikan tangisannya.
Lima menit saya menunggu, sampai akhirnya dia menceritakan apa yang telah terjadi sebelum dia mengirim email yang saya terima. Rupanya tentang si pacar. Beberapa hari yang lalu si pacar telah melakukan sesuatu hal yang membuat Nina marah, dan bahkan si pacar mengakui sendiri bahwa dia salah.
Lalu kenapa Nina menangis kalo si pacar sudah mengakui kesalahannya dan masalahnya telah dibicarakan baik-baik? Saya pun menanyakan hal itu. Nina bilang, dia masih sering teringat apa yang telah dilakukan si pacar terhadapnya.
“Forgiven but unforgotten.” kata-kata itu yang paling saya ingat. *the corrs banget ya
*
Nina bilang, si pacar berusaha meyakinkannya, dan berharap Nina mau percaya kepadanya, bahwa ia tidak bermaksud untuk menyakiti hati Nina. Bahkan, si pacar menangis. Si pacar sangat menyesal melakukan kesalahan itu.
Saya tahu, teman saya itu tidak tahan melihat orang yang sangat disayanginya menangis. Jika hal itu terjadi, maka dia akan ikut menangis dan mengumpat-umpat sendiri orang yang telah membuat siapapun yang disayanginya menangis, di dalam kamarnya.
Saya berusaha menghibur Nina. Hampir dua jam kami bercerita ngalor-ngidul. Saya hanya berharap telpon saya bisa membantu mengembalikan senyumnya yang sempat hilang karena permasalahan ini.
Dan ini, kata-kata terakhir yang saya bilang ke Nina sebelum saya menutup telpon. Saya berharap bisa membuatnya tersenyum sebelum ia terlelap.
“She can try to take him out or tempt him, but she should remember that she will never be able to make him leave you alone.”



but everybody deserved for second chance
keduluan sama ndoro
@ndorokakung, ‘everybody’ nya ditujukan ke siapa e? second chance for what? make the other mistakes?
ngga tau kenapa, saya ngerasa kalo saya sedang berada di posisi pacar Nina… emmm, setuju sama pakdhe wicak… setiap org berhak diberikan kesempatan kedua… dan entah kapan saya akan mendapatkannya
kesempatan kedua untuk jadi lebih baik donk, mba…bukan untuk berbuat salah lagi
What’s the point of reuniting kalo orangnya masih sama? We used stop loving that person, if nothing change in him, no reason to love him in the same way, rite?
*mengutip orgasmingoranism*
bagi saya, kesalahan pertama adalah fatal tetapi masih ada kesempatan kedua sekaligus itu sebagai kesempatan terakhir… selebihnya…. tidak ada kesempatan ketiga…..
hal yg biasa untuk cewek
idem ndoro
everybody deserves the second chance ;-)
Kunjungan di pagi hari yang cerah dan salam kenal sebelumnya dari sesama peserta Pesta Blogger 2009
Waahh.. ini baru yg namanya sahabat sejati…
Kalo aku kadang2 suka males menerima curhat malem2… ngantuk… hehe…
hmm…..complicated, idem sama ndoro selama kedua belah pihak bs menerimanya dan siap untuk membangunnya kembali
aku bisa buat Nina tersenyum
kenalin ke aku donk Ninanya