1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar


Saya bingung harus memulai dari mana. Sudah lama saya ga nulis, jari ini rasanya kaku, otakpun beku. Mati rasa, cuma itu kata itu yang menurut saya pantas diucapkan untuk saya sekarang ini. Intensitas menulis saya jauh lebih menurun. Saya tidak lebih rajin menulis dibandingkan saat saya menulis di blog gratisan dengan tulisan abal-abal yang penuh kesan anak SMA. Padahal di ‘rumah’ saya yang sekarang ini, yang tidak lagi gratisan, yang dibuatkan dengan sepenuh hati oleh Tuan, seharusnya saya lebih banyak menulis dibandingkan sebelumnya.

Dan sore ini, *dengan PC pinjaman* saya mencoba untuk menulis lagi di rumah saya ini. Semuanya berkat Perahu Kertas:)

Semalam, entah apa yang merasuki saya sampai akhirnya saya menyentuh juga novel yang telah saya beli lima hari yang lalu. Novel yang selama lima hari kemarin selalu ada di dalam tas saya kemana pun saya pergi. Novel yang selama lima hari kemarin saya biarkan saja tanpa tersentuh. Perahu Kertas.

Novel setebal 444 halaman karangan Dewi Lestari (Dee) itu saya habiskan dalam waktu lima setengah jam. Ini pertama kalinya saya menyelesaikan novel setebal itu dalam waktu singkat. Biasanya saya bisa memakan waktu 1-2 minggu, atau bahkan sampai 3 minggu bila kuliah menyita banyak waktu saya.

Saya mempunyai semua novel karangan Dee, mulai dari Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh; Supernova: Akar; Supernova: Petir; Filosopi Kopi; Rectoverso; dan Perahu Kertas. Ya, saya menggilai novel-novelnya semenjak pertama kalinya saya membaca Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh *pinjaman*. dan sejak saat itulah saya jatuh cinta pada hasil karya Dee.

Perahu Kertas. Novel ini lebih ‘ringan’ dibandingkan novel-novel Dee sebelumnya. Namun jangan salah, novel ini membuat emosi saya teraduk-aduk semalam. Sebentar saya dibuatnya tersenyum, namun tak lama saya dibuatnya feelin’ blue yang membuat saya tak ingin berhenti membaca jika sampai cerita dalam novel itu selesai. Maaf, saya tidak akan memberikan review atau sinopsis novel ini karena kalian bisa membacanya di sini. Saya hanya ingin berbagi bagaimana novel ini membuat saya rindu untuk menulis lagi di ‘rumah’ saya ini.

Thank’s, Dee
Thank’s for the inspiration… :)


3 Responses to “Perahu Kertas Itu…”

  1. antyo rentjoko Says:

    Kapan kamu nulis novel? Dengan maupun tanpa tokoh bernama G? ;)

    si bungsu: eeeerrr… nanti deh kalo waktu buat nulisnya tersedia banyak sekali, Paman… *alesyan*

  2. zam Says:

    aku malah gak sempet baca banyak buku!! :(

    si bungsu: Zam, itu juga baca novel setelah berbulan2 ga’ baca :(

  3. didut Says:

    dan saya msh menunggu kapan itu lanjutan supernovanya (dohj)

Leave a Reply

;)) :roll: :sleepy: :] :lol: :twisted: :D :* -.- more »