1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar


Archive for the ‘families’ Category

Ngga kerasa udah mau pulang lagi ke Lampung hari sabtu ini. :P Padahal belum ada sebulan yang lalu saya pulang ke rumah. Kalau kepulangan terakhir saya kemarin karena libur pergantian trimester, pulang kali ini karena libur lebaran. Dalam setahun saya bisa pulang ke rumah 4-5 kali *anak kost macam apa sebentar-sebentar pulang* :D

Kalau ditanya apa yang menyenangkan di rumah sehingga saya sering pulang, saya juga malah bingung sendiri. Wong di rumah saya juga sangat jarang berpergian. Maunya sih keluar sama temen-temen SMA, reuni sama temen-temen SMP, SD, atau bahkan TK. Tapi apa mau dikata, seringnya sih janji-janji bertemu berakhir pada permintaan maaf. Aktivitas kami yang sudah berbeda-beda, jadwal libur yang tidak lagi sama, belum lagi papa dan mama yang riwil minta diantar ke sana ke sini, mengharuskan saya untuk betah di rumah.

Satu-satunya hiburan paling yahud kalo pas di rumah adalah si Setan kecil. :D Biasanya saya merengek ke mama, supaya beliau mau menjemput si setan kecil untuk dibawa ke rumah :mrgreen: Biasanya kalo ngga riwil, semua permintaan terpenuhi, dia akan bertahan di rumah dari pagi sampai malam :P Seharian saya bisa bermain bersamanya, naik turun tangga di rumah, berantem-beranteman di kamar mama, mengajaknya membeli es krim, atau membeli martabak :P

Liburan kemarin saya ngga bawa apa-apa untuknya, tapi kepulangan kali ini, saya membawa dasi-dasi kecil ini buat si Setan Kecil. Semoga dia mau memakainya, biar tambah ganteng :D

CIMG6766

easter2007

gambar dipinjem dari sini

Apa arti Paskah buat kamu? Adakah sepenggal cerita istimewa tentang Paskah, sehingga membuatmu tak bisa melupakan hari itu?

Buat saya, Paskah akan selalu membawa ingatan saya kembali ke beberapa belas tahun yang lalu. Di satu siang yang tak begitu terik, percakapan kecil terjadi antara saya dan mama yang kala itu menemani saya untuk tidur siang.

Saya     : Ma, kenapa utet dikasih nama Novita Kristiana Hutabarat?
Mama : Novita itu karena kamu lahir bulan November. Kristiana, karena kamu akan bertumbuh dalam Kristen. Hutabarat itu kan marga papa.
Saya   : Ooohhh… Terus kenapa kakak namanya Erlinawati Pascarina Hutabarat? Kan kakak lahirnya bulan April, namanya koq ga ada April-nya?
Mama  : Nama Erlinawati itu ya dapet begitu aja. Pascarina itu karena dulu pas kakak lahir berdekatan dengan hari Paskah.

Dan obrolan itu pun berlanjut ke hal-hal kecil tentang aktivitas saya di sekolah. Lalu, apa yang saya ingat dari obrolan singkat itu setelahnya? Sejak saat itu setiap hari Paskah tiba, saya selalu teringat kakak. Tidak pernah terlewatkan, wajahnya selalu terlintas di benak saya, bahkan sampai hari ini.

Hal lain yang membuat Paskah begitu berarti buat saya karena Paskah merupakan pertemuan terakhir saya dengan kakak. Bulan April 2004, saya melaksanakan baptis sidi tepat seminggu sebelum hari Paskah. Kakak yang memang kebetulan libur kuliah pun pulang ke rumah untuk hadir dalam baptis sidi tersebut. Seperti biasa, ia pulang dengan membawa keriangan yang luar biasa sehingga rumah pun terasa lebih ramai.

Malam itu, pada saat ia akan kembali ke Jakarta, saya tidak memberikan peluk hangat atau bahkan merelakan pipi ini untuk diciumnya, karena saya yakin dalam sebulan ke depan kami akan bertemu lagi. Ia hanya tersenyum lebar memperlihatkan sederet gigi-gigi putihnya itu. Saya tidak pernah menyangka, senyum yang saya lihat hari itu merupakan yang terakhir saya lihat.

Jumat, 21 Mei 2004

Malam itu diadakan ibadah penghiburan di rumah. Suasana rumah memang masih menunjukkan kesedihan yang luar biasa karena keluarga ini baru saja kehilangan seorang anak perempuan yang sangat dikasihi. Saya berusaha duduk tegar di luar rumah bersama teman-teman yang tak henti menghibur karena saya selalu menitikkan air mata. Khotbah pendeta malam itu pun tak satu kalimat pun singgah di kepala saya. Nyanyi-nyanyian kidung jemaat terdengar datar di telinga saya. Saya merasa kosong hingga malam itu.

Sepulangnya tamu-tamu, saya hanya duduk diam di beranda atas rumah saya. Tak ada yang saya lakukan sampai setengah jam, sampai saya melihat tata ibadah penghiburan tadi. Saya membuka halaman demi halaman, dan menemukan satu puisi di sana. Barisan kata-kata itu menghentak saya, mencoba mengajak saya untuk dapat merelakan kepergiannya, demi kehidupan yang lebih baik lagi bersamaNya…

Maut itu Untung

Kematian adalah duka
merobek, mencabik
menyelesaikan kesementaraan;
pisah terakhir tak lagi berujung hampa
dalam hidup di bumi ini;

Kematian adalah ratapan
raung tangis kehilangan

karena yang pergi tak kembali lagi
di kekinian waktu yang selalu memburu;

Kematian adalah kepunahan
jasad fana keinsanian
yang berasal dari debu tanah
melenyap seperti uap;

Tapi bagi kita,
maut adalah untung:
yang ditabur dalam kebinasaan,
dihidupkan dalam kekekalan,
disemai dalam kehinaan,
ditumbuhkan dalam kemuliaan,
ditanam dalam kelemahan,
dibangkitkan dalam kekuatan;
hanya dalam sekejap saja
semua akan diubah
kita,
kau dan aku
pewaris hidup kekal;
yang tersisa hanya cinta!

-Dr. Fridolin Ukur-

Untuk dia…

Seorang laki-laki,
seorang anak,
seorang suami,
seorang abang,
seorang adik,
dan
seorang bapak…

“Selamat Ulang Tahun, Pa…”
“Tuhan memberkati di setiap langkahmu…”
“Tuhan memberikan kesehatan di setiap harimu…”
“Tuhan memberikan sukacita di hari tuamu…
“Tuhan memakaimu dalam setiap rencana besar-Nya…”

“Utet sayang Papa…”

*hugs and kisses*

Selamat ulang tahun Bapak
Selamat ulang tahun pernikahan juga buat Bapak dan Ibu
Semoga berkat-Nya terus melimpahi Bapak, Ibu dan keluarga…

Salam sayang,
-Utet-

ps. maaf tidak bisa datang ke Bogor :(

Satu jam yang lalu papa telpon saya. Seperti biasa ia hanya menanyakan kabar, karena anaknya yang tinggal seorang ini sudah tidak menelpon atau mengirimkan pesan sejak 3 hari yang lalu. Kami berbincang persoalan kuliah dan psikotes yang minggu depan akan saya jalani.

Saya mendengar ada suara mama di belakangnya, sedang bercengkerama dengan anak kecil. Ternyata di rumah sedang ada Louis si setan kecil. Tak lama papa memanggilnya untuk berbincang dengan saya di telpon. Bibir kecilnya itu menggumamkan kata-kata yang belum jelas terdengar, itupun papa harus mengajarinya.

Mendengar suaranya itu, saya jadi ingat ketika saya pulang ke rumah Natal kemarin. Saya hanya bertemu satu hari saja dengan Louis. Ia dan keluarganya harus berangkat ke rumah Opung (kakek-nenek)-nya untuk merayakan Natal di Sumatera Utara. Biasanya, kalau saya menghabiskan liburan di rumah, setiap hari saya selalu ada Louis. Ketika mama sudah menyerah untuk membangunkan saya, mama akan menjemput Louis dan mengajaknya ke rumah untuk membangunkan saya. Karena biarpun bibirnya mungil, suaranya itu membahana di seluruh sudut rumah.

Saya jadi ingin pulang ke rumah ^_^
Wait for me, Setan Kecil…