1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar


Archive for the ‘friends’ Category

Sudah lama saya ga memperbaharui isi blog saya ini, sekalinya posting isinya narsis :mrgreen:

Saya ga mau banyak-banyak bicara yang ga penting, langsung aja…

Buat kalian yang mau ngobrol-ngobrol bersama kami anak-anak CahAndong, yuk mari, dateng ke talkshow kami:

Sampai ketemu di sana yaaaa… ;)

Teringat tulisan Tuan yang ini, saya jadi teringat dua orang perempuan yang saya kenal hampir delapan tahun ini. Lama? Ah, tidak juga. Kami memang dipertemukan pada saat pertama kali kami merasakan indahnya menjadi seorang siswi SMA, tapi saya merasa peristiwa itu baru terjadi setahun yang lalu.

Diah Lusita Sari dan Diaswuri Prawulaningsih. Dua perempuan ini yang membuat dunia SMA saya menjadi lebih berwarna, bahkan sampai detik ini. Saya tidak pernah menyangka akan sedekat ini dengan mereka berdua. Tidak hanya mereka, bahkan orang tua kami pun saling mengenal. Saling kunjung mengunjungi jika hari raya masing-masing tiba.

Tahun pertama di SMA, saya memang tidak sekelas dengan mereka berdua, akan tetapi kami saling mengenal satu sama lain. Hal ini disebabkan karena kelas kami yang bersebelahan, membuat kami sering bertemu di depan kelas ketika kami menghabiskan jam istirahat. Pada tahun itu, kami hanya sebatas bertegur sapa dan tak banyak waktu kami habiskan bersama.

Memasuki tahun kedua, saya terdaftar pada satu kelas yang hampir semua muridnya bukan berasal dari kelas saya sebelumnya. Bingung? Pastinya! Karena pada hari pertama di kelas 2 tersebut saya harus menentukan siapa yang akan duduk satu meja dengan saya selama satu tahun ke depan. Sekali salah pilih, maka hidup saya selama satu tahun ke depan akan suram *maaf, sepertinya ini agak berlebihan* :P

Pagi itu saya datang agak terlambat. Teman-teman saya yang lain telah menemukan tempat duduk paling strategis menurut mereka masing-masing, ditambah lagi teman satu meja sudah mereka dapatkan. Hal pertama yang saya lakukan pagi itu adalah mencari tempat duduk. Setelah mendapatkan tempat duduk, lantas apa? Harusnya saya mencari teman satu meja, tapi berhubung belum ada wajah yang saya kenal di ruangan itu. Ditambah lagi, mereka semua sudah memiliki teman satu meja.

Saya yang memang sedari dulu mudah panik, mulai bingung mencari siapa yang akan mengisi hari-hari saya selama tahun ke depan. Dias yang mengetahui kepanikan saya, mulai menyapa.

“Lo belum dapet temen, bew?” *’bew’, kependekan dari Jebew, nama panggilan teman-teman SMA saya*

“Eerrr… Belum. Bingung nih…” saya menjawabnya sambil meringis *baca:berharap dicarikan teman*

“Tunggu aja. Lusi bentar lagi juga dateng, kayaknya dia belum dapet temen juga deh.”

Wuuuiiiihhh… Hati saya langsung adem ayem mendengarnya. Senyum mengembang dengan lebarnya di wajah saya. Tak lama, datang juga perempuan yang saya nanti-nanti. Tanpa babibu, langsung saya tanya apakah dia bersedia duduk satu meja dengan saya. Karena tidak ada pilihan lain, jadilah dia duduk dengan saya selama satu tahun itu.

Kedekatan saya dengan Dias dan Lusi berawal dari satu aktivitas yang kami ikuti bersama di sekolah. Panjat dinding. Eits, jangan tertawa dulu. Tentu saja ini bukan panjat dinding yang bertujuan agar siswa-siswi semakin mahir melompati tembok belakang sekolah untuk bolos. Ini adalah olahraga panjat dinding yang kala itu sedang mencari atlit-atlit unutk diberangkatkan pada PRAPON 2004 di Palembang. Berhubung pada saat itu kami bertiga penasaran bagaimana rasanya memanjat tebing-tebing tiruan itu, jadilah kami tercebur dalam kegiatan itu sampai pertengahan kelas 3.

Satu tahun yang saya kira berjalan dengan baik, ternyata tak semulus yang saya harapkan. Saya dan Lusi beberapa terlibat perselisihan kecil yang membuat kami saling berdiam diri. Akan tetapi, ini tidak berlangsung lama. Karena memang masalah yang timbul hanya sebatas salah paham. Jika kami berdua sudah saling diam, tinggalah Dias yang akan repot mendamaikan kami.

Tahun ketiga, saya dan Lusi mendapatkan kelas yang sama, jadi tak pelak lagi kami pun duduk bersama. Sayang, di tahun terakhir ini kami berpisah kelas dengan Dias. Tapi ini bukan berarti kami tidak bisa dekat, justru sebaliknya. Kami lebih sering bersama, ke kantin bersama, pulang sekolah bersama, dan tentu saja bolos bersama. :mrgreen:

Kuliah membuat kami semakin terpisah lebih jauh. Terlebih lagi, saya harus menempuh kuliah di Jogja *sampai dua tahun ke depan nanti*. Kami hilang kontak? Tentu saja tidak. Apa gunanya teknologi canggih yang namanya telpon genggam itu :D Hampir semua perbincangan kami lakukan melalui telpon, dan pesan singkat. Jika saya pulang ke rumah, sudah dapat dipastikan, mereka berdua akan menginap di rumah saya, dan kami pun menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling bercerita *bergosip* tentang diri masing-masing. :P

Itulah mereka, yang sampai hari ini selalu ada buat saya, begitu juga sebaliknya. Saya berharap, kami bisa terus berjodoh sampai kami dipisahkan kematian. :)

Kemarin saya pergi keluar dengan dua teman kuliah S-1 saya. Sebut saja Dino dan Deni. Saya sengaja tidak memberitahukan nama asli mereka, karena mungkin mereka tidak ingin nama aslinya disebut.

Siang itu kami mencari tempat yang nyaman untuk berbincang dan makan siang. Kami berbincang banyak hal. Namun, pembicaraan kami kebanyakan mengarah ke kisah asmara kami masing-masing, serta kisah asmara teman kami yang lain, sebut saja Didi.

Dino. Di bulan Desember kemarin, pernikahannya dibatalkan. Pembatalan ini merupakan yang kedua kalinya. Pembatalan pertama dikarenakan sang kekasih yang merasa belum siap untuk menikah. Pada saat itu rencana pernikahan baru mulai disiapkan. Pembatalan kedua dikarenakan keluarga dari pihak pria yang tiba-tiba tidak menyetujui. Padahal, rencana pernikahan mereka sudah mendekati selesai. Undangan sudah dicetak, namun belum disebar, katering dan gedung telah dipesan, dan tak ketinggalan cincin kawin pun telah dibeli.

Sedih? Tentu saja. Karena hubungan yang telah dibina lebih dari 4 tahun itu kandas begitu saja. Akhirnya, Dino dan kekasihnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Sekarang ini, Dino harus menghadapi keluarganya yang mencoba menjodohkannya dengan seorang wanita supaya ia dapat melupakan mantan kekasihnya. Saya hanya berusaha menghibur dan menguatkan hatinya supaya ia tidak terlalu larut dalam kesedihan. Dan ia pun hanya berkomentar , “Ya ga semudah itu, Tet…”

Deni. Tak banyak kisah asmara darinya. Ia tak mudah mendapatkan wanita yang cocok dengan hatinya. Selama 4 tahun saya mengenalnya, ia memang mendekati beberapa wanita. Dan yang saya tahu hanya seorang wanita yang sempat menjadi kekasih hatinya, dan itupun hanya bertahan satu bulan.

Didi. Siang itu, Dino dan Deni banyak menceritakan kisah asmara Didi. Tentang kegilaan Didi terhadap sang kekasih, sehingga ia rela untuk melakukan apa saja demi mempertahankan hubungannya. Saya dipertunjukkan sebuah video oleh Dino dan Deni. Di dalam video itu saya melihat Didi berjalan-jalan di dalam Ambarukmo Plaza dengan sebuah papan di dadanya yang berisi foto-foto Didi dan kekasihnya serta tulisan-tulisan yang menggambarkan bahwa Didi sangat menyayangi kekasihnya itu.

Saya melihat wajah Didi di dalam video itu sangat tertekan. Ia melakukan itu hanya untuk mendapatkan maaf dari kekasihnya. Saya tidak sampai hati untuk melihat video itu sampai selesai. Dino dan Deni juga menceritakan bahwa Didi pernah membeli fastfood dengan hanya menggunakan celana boxer sambil berjoget-joget di depan orang-orang. Dan lagi-lagi, semua itu dilakukan hanya untuk mendapatkan kata maaf.

Saya sungguh tidak mengerti apa yang terjadi dengan Didi. Saya tidak bisa mendapatkan alasan yang paling masuk akal mengapa ia bisa melakukan hal-hal yang menurut saya sangat konyol untuk dilakukan. Ditambah lagi penjelasan Dino dan Deni tentang kekasih Didi yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh berkomitmen dengan Didi, namun Didi tetap mempertahankannya. Entahlah, otak dan hati Didi perlu disinkronisasi sepertinya.

Sedangkan saya sendiri, tak banyak kisah yang saya ceritakan. Cukuplah mereka tahu kalau kini saya sangat beruntung memiliki Tuan di hati saya. Dan hanya dengan melihat air muka saya, merekapun mengiyakan pernyataan saya itu.

Itulah kisah asmara saya dan teman-teman saya, yang terangkum dalam 6 jam pertemuan saya dengan Dino dan Deni. Bagaimana kisah asmara kalian?

Seperti biasa melalui google reader saya mengikuti perkembangan blog teman-teman setiap harinya. Grace Samboh, adalah salah satu teman yang senantiasa saya baca blog-nya. Kemarin saya berkunjung di blog-nya lagi, dan saya menemukan situs yang menunjukkan siapa atau bagaimana dirimu yang sesungguhnya menurut nama dan tanggal lahirmu. Saya telah mencobanya, dan inilah hasil yang saya dapatkan,

You are Yellow Fawn, who tend to be idyllic, not pretentious, and seem to give an impression of a tomboy, and someone who hates to lose.
Nevertheless, you are a woman with gentle heart and rather old fashioned ways of thinking.
You enjoy having life with atmosphere, and shows consideration and care for others.
But you can be very fussy about your preferences.
You dislike anything that is dishonest, and have passion and cuteness.
Your weakness is that you can be bit selfish at times.
You are honest hard working person.
Relationships that you feel safe tend to be restricted, and therefore, you are easily influenced by people and situation around you.
You can not easily adapt to changes.
You think high of morality.
You are easily moved by tears, and are honest and sentimental sort of person.
You tend to restrict your self with your cautiousness, and this may result in isolation.
You tend to be difficult to get to know, and will require time to become friend with.
Nevertheless, once your character is understood, you will be able to keep a long and steady friendship.
If you keep doing favors for those people who always ask you, you may lose your good fortune.
So, be careful.
You are not a housewife type of person, but you can be dependent on your husband.

Dan saya setuju dengan apa yang Grace bilang bahwa hasil ini 90% akurat, bahkan menurut saya 99%. Bagaimana dengan kamu?

I really want to visit all of you in that event on this Saturday night, but…
I can’t attend it.
I know, It’s been a long time we didn’t meet, but *again*….
I prefer to stay here, in this downtown.
With a little bit of disappointed *because i can’t meet all of you*…
So sorry, Guys…

I admitted missing all of you…
With our conversation, jokes and laughs…
With our wine or beer and some ciggies *i don’t really like ciggies*
I do love all of you…