1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar


Archive for the ‘learn to write’ Category

Senja sudah menyambut, tapi perempuan itu masih saja duduk memandangi hujan yang tak kunjung berhenti dari balik kaca sebuah coffeshop. Entah sudah berapa lama ia duduk di sana. Remang cahaya tempat itu membuatnya merasa nyaman. Dengan begitu orang-orang di dalam coffeshop itu tidak akan memperhatikan wajah yang didera gundah.

Perempuan itu duduk bersama sahabat kecilnya. Tak ada yang dibicarakan sejak mereka sampai di sana. Sahabatnya tahu, perempuan itu ingin menceritakan sesuatu. Namun ia tak tergesa bertanya, ia tahu perempuan itu butuh waktu untuk menata suasana. Ia hanya diam, menunggu perempuan itu membuka mulutnya.

“Hampir saja…” perempuan itu memulainya.

“Hampir saja, kesalahan itu terulang lagi. Padahal aku sudah berjanji. Kamu masih ingat janjiku?” ditambahkannya lagi. Ia memalingkan muka ke arah sahabatnya sesaat, lalu kembali memandangi hujan.

Ia diam. Tak dilanjutkan lagi kata-katanya.

Sahabatnya menunggu sejenak sembari diteguknya hot chocolate yang mulai dingin. Ia berharap perempuan itu melanjutkan kalimatnya, tapi ternyata tidak. Tak lama, sahabatnya itu pun berkata, “Kita hanya manusia biasa. Dan godaan akan selalu datang merayu. Tapi aku tahu kamu bisa…”

“Bisa. Sampai hari ini aku masih bisa. Itupun sudah dua kali hampir ku ingkari janjiku sendiri. Lalu, bagaimana dengan esok?” perempuan itu menyela dan setengah berteriak sebelum sempat sahabatnya itu menyelesaikan kalimatnya. Ia menoleh ke arah sahabatnya sekejap, menatap matanya, lalu kembali memandangi hujan yang semakin deras.

“Aku memang hanya janji pada diriku sendiri. Tapi sungguh aku tak ingin kebodohan-kebodohan masa lalu itu terulang lagi.” lanjut perempuan itu lagi.

“Esok akan tetap datang, Nduk. Dan kamu akan tetap menunaikan janjimu. Ada aku, sahabatmu. Ada dia, yang kamu cintai. Ada mereka, yang kamu sayangi. Dan kami, akan selalu ada.” lembut suara sahabatnya itu, seperti ada sebentuk kehangatan yang menjalar.

Tak ada bantahan lagi. Hanya sedikit senyum menyembul di wajah perempuan itu. Tak banyak memang, tapi sahabatnya tahu perempuan itu tak membutuhkan lagi remang cahaya.

A friend in need is a friend indeed.

Adakah yang salah dengan gaya menulis saya di blog baru ini? Jadi begini, ada beberapa teman yang berkomentar mengenai blog yang masih terbilang baru ini melalui email dan private message. Mereka bilang kalau gaya menulis saya yang sekarang kebanyakan mellow-nya *masa iya?* dibandingkan blog yang lama yang menurut mereka lebih ceria dan apa adanya *baca: abegeh*.

Ada lagi yang bilang kalau hal ini disebabkan karena saya sedang jatuh cinta, makanya gaya menulis saya berubah *doh*. Apa hubungannya jatuh cinta dan gaya menulis? Sepertinya saya tidak mengalami banyak perubahan selama satu bulan lebih ini, lebih tepatnya semenjak Tuan menjadi belahan hati saya. Saya masih tetap gokil, masih tetap asyik, masih tetap agak lemot, masih tetap sedikit ceroboh, masih tetap suka minyak telon, masih tetap santai seperti di pinggir pantai *loh, apa toh? Koq malah ngga nyambung…*

Di blog baru ini, saya hanya ingin menyesuaikan gaya menulis dan cara berpikir dengan umur saya *merasa tua*. Yang menurut bapak saya, sudah bukan waktunya buat saya untuk bergaya layaknya abegeh masa kini. Dia seringkali bilang seperti ini, “Inang, umurmu kan sudah di atas 20 tahun, cara bicara dan pola pikirmu jangan seperti anak SMA donk..”. Eerrrr, padahal saya bertingkah seperti itu kan hanya karena ingin bermanja-manja dengannya, tapi mengapa malah disalah-artikan? *doh*. Eh, koq malah membahas bapak saya yah?

Alasan kedua adalah karena beberapa blog memang telah meng-influence untuk merubah gaya menulis saya. Tak perlulah saya menyebutkan satu persatu, yang jelas mereka telah memberikan saya banyak pengetahuan bagaimana menulis yang baik. *big grin*

Postingan ini saya tulis dengan sedikit gaya menulis di blog lama, walaupun saya tidak menggunakan “elo-gue” lagi. Postingan ini juga saya buat untuk beberapa teman yang merasa kalau saya sedikit berubah. Semoga postingan ini menghibur kalian yang rindu dengan gaya menulis saya yang lama. Akhir kata, selamat melanjutkan blogwalking-nya lagi, teman-teman. Semoga selamat sampai tujuan. Ciaow…

Sore itu saya sedang duduk di bangku sebuah taman ketika seorang perempuan paruh baya tiba-tiba datang dan duduk di sebelah saya. “Maukah anda mendengar cerita tentang tuan putri dan jelly-nya?” katanya tanpa memandang saya sedikitpun. Belum lagi saya mengiyakannya, perempuan itu sudah mulai bercerita…

Saya mengenal seorang tuan putri yang telah lama hidup dalam negeri dongeng ciptaannya sendiri. Tuan putri yang selalu terkurung dalam ruang imaji tak berbatas, dimana ia selalu berusaha mengusir mega-mega mendung yang singgah di negeri tercintanya itu.

Saya begitu mengenalnya. Mulai dari makanan kesukaan, tipe pria idaman, sampai hal-hal terkecil yang bisa meledakkan emosinya. Bahkan setiap kebahagian, kesedihan, dan kesalahan sekecil apapun selalu diceritakannya. Kami memang dekat, layaknya dayang-dayang yang menjadi pengasuhnya, saya selalu ada di sampingnya.

Saya pun mengetahui kebiasaan paling buruk yang ia miliki. Kebiasaan yang tak pernah hilang sampai hari ini. Kebiasaan lari dari apa yang membuatnya marah, sedih, dan menangis. Kebiasaan memasang senyum terbaik untuk orang-orang di sekitarnya, supaya mereka tidak turut dalam badai yang melanda hatinya. Sekalipun suasana hatinya luluh lantak.

Pribadi tuan putri itu saya umpamakan seperti sebuah ember besar yang berisi penuh dengan jelly, keras di luar tetapi begitu rapuh di dalam. Jika tanpa jelly di dalamnya, bagaimanapun ia diperlakukan, ia akan tetap kuat seperti ember yang bertahun-tahun dipakai ibu saya mencuci setumpuk pakaian anak-anaknya. Namun, jika tuan putri membawa serta jelly di dalamnya, ia akan berusaha bergerak dengan hati-hati. Karena jika sampai terjatuh, jelly itu tidak akan bisa dinikmati oleh siapapun, hanya bisa dipandangi karena telah hancur dan berlumuran debu tanah.

Ia sudah membuat berbagai macam rasa jelly selama hampir 22 tahun ini. Semua itu dilakukan hanya untuk membuat hidupnya dan orang-orang sekitarnya lebih manis dengan jelly buatannya itu. Dari semua jelly yang telah ia buat, tak sedikit jelly yang jatuh. Dan setiap jelly yang jatuh selalu membuatnya menangis di sudut kamar. Namun hebatnya, ia selalu mencoba untuk terus membuat dan membawa jelly di sepanjang hidupnya.

Suatu malam saya menemukannya menangis. Saya tahu, pasti ada jelly yang terjatuh lagi. Ia menunjukkan secarik kertas yang berisi puisi singkat.

Inilah aku.
Dengan segala kekurangan yang ada.
Berdiri di hadapanmu.
Mengharap segenggam cinta.
Tak perlu banyak, hanya segenggam.
Asal dapat menyatukan kepingan-kepingan hati.
Yang mungkin sebagian sudah tertiup angin.

Sudikah?

Saya tahu, ia sedang jatuh cinta untuk yang ke-sekian kalinya. Namun, bukankah seharusnya jatuh cinta itu indah? Entah mengapa, dalam kalimat-kalimat itu saya merasakan kesedihan dan kepasrahan yang tak pernah tampak di wajah tuan putri itu sebelumnya. Tak ada sepatah kata yang diucapkan pada saat ia memberi kertas itu. Hanya ada tatapan kosong, yang membuat tidur saya tak nyenyak malam itu.

Tiga purnama berlalu. Pagi itu hujan belum juga berhenti, sang raja siang pun belum menunjukkan batang hidungnya. Saya terhenyak ketika melihat tuan putri sudah bangun dan berdiri di pinggiran tempat tidur saya sambil tersenyum. “Adakah yang menganggumu, Cantik? Apakah mimpi buruk membuatmu terjaga?” saya bertanya seraya berusaha untuk bangun dan tersadar bahwa ini bukan mimpi.

“Dia bilang bahwa dia sudah berjanji padaku dan dia berharap janjinya itu adalah janji seorang laki-laki.” ia berkata seraya mendekap saya. Tak lama, ia melepas dekapannya perlahan, berlalu dan meninggalkan saya dalam kebingungan.

Samar saya mendengar Haley Bennet dan Hugh Grant melantunkan Way Back Into love dari kamarnya. Saya lalu berdiri, membuka gordyn, dan menyambut pagi sambil tersenyum. Saya memang tak sepenuhnya tahu apa yang ada di hatinya, tapi saya yakin tuan putri mulai memahami arti kedewasaan yang sesungguhnya dalam hidup…

I’ve been living with a shadow overhead
I’ve been sleeping with a cloud above my bed
I’ve been lonely for so long
Trapped in the past, I just can’t seem to move on

I’ve been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need em again someday
I’ve been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind
All I want to do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love

I’ve been watching but the stars refuse to shine
I’ve been searching but I just don’t see the signs
I know that it’s out there
There’s got to be something for my soul somewhere
I’ve been looking for someone to shed some light
Not just somebody just to get me throught the night
I could use some direction
And I’m open to your suggestions

All I want to do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
And if I open my heart again
I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end
There are moments when I don’t know if it’s real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration Not just another negotiation

All I want to do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
And if I open my heart to you
I’m hoping you’ll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I’ll be there for you in the end

Perempuan paruh baya itu berlalu begitu saja. Sama seperti ketika datang tadi, ia pergi tanpa sepatah kata pun…

Setelah merencanakan, menimbang-nimbang, dan bertanya sana-sini, akhirnya saya memutuskan juga berpindah ke rumah baru nan cantik yang dibuat dengan penuh cinta ini. Dengan bantuan sepenuhnya dari Tuan, sayapun bisa menempatinya sekarang. Meski pekerjaannya bertumpuk, ia masih menyisakan waktu untuk mengutak-atik rumah ini, ditambah lagi harus mendengarkan celotehan saya yang tak henti-henti. Saya pikir, ucapan terimakasih tidak akan pernah cukup untuk menggantikan ini semua.

Entah sudah berapa orang saja yang saya ganggu waktunya hanya untuk menanyakan perihal nama rumah ini, terutama Tuan. Tadinya saya ingin menggunakan kata ‘cupcake’, karena saya sangat suka kata itu, tapi karena sudah ada yang memakainya, Tuan menyarankan untuk menggunakan nama lain. Namun saya bersikeras dengan nama itu, saya bilang padanya, “Apa sajalah, yang penting ada ‘cupcake’-nya…”. Dia cuma berkomentar, “Maksa…”. Diapun menyarankan beberapa nama, namun tetap saja belum sreg di hati. Sampai akhirnya di satu malam saya sampai di titik menyerah kalah, dan sayapun memilih nickname di plurk untuk menjadi domain saya. Tak disangka, Tuan dan Pakdhe menyukainya, mereka bilang nama itu pas untuk menggambarkan diri saya. Dan malam itu juga resmilah saya menggunakan nama itu sebagai domain saya.

Tadinya saya ingin memindahkan seluruh harta yang ada di rumah lama, tapi setelah dipikir kembali rasanya tak perlulah saya memindahkannya, karena saya akan memulai lagi mengumpulkan harta-harta saya itu dari awal. Dan saya berharap bisa lebih banyak dibandingkan harta yang ada di rumah lama itu.

Masih sama konsepnya seperti rumah lama, “bakul curhat dan berbagi rasa”. Saya masih menggunakan konsep ini karena saya masih tetap ingin ‘didengarkan’ dan ‘mendengarkan’ melalui tulisan saya. Saya memang tak pandai menulis laiknya jurnalis-jurnalis, atau blogger yang sudah membahana namanya di ranah blog. Tapi, cukuplah bagi saya menulis untuk berbagi cerita, bersama kalian semua…

Thank’s a lot, Dear

Untuk semuanya, terutama untuk janji itu… *hugs*

Thank’s a lot, Pakdhe

Mau menjadi sahabat sekaligus bapak kedua buat saya…

Thank’s a lot, Guys

Untuk tetap membuat saya menjadi bagian dari kalian dan memacu semangat menulis…