1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar


Archive for the ‘love’ Category

9 Juli 2010 — Kawah Putih

“Pergi gak tau jalan akhirnya sampe juga berkat Google Maps! Seneng bisa pergi jauh dan tanpa rencana lagi sama kamu. Makasih Sayang.
Tuan.”

“Ga hanya berkat Google Maps, Abang… Tapi juga berkat saling percaya satu sama lain. Seandainya aku ga percaya sama kamu kalau kita pasti bisa sampe Kawah Putih ataupun kamu yang ga percaya, kita ga akan pernah sampe di sana. Makasih Sayang.
Nyonya.”

Thank you for Nasi campur Kenanga, mangoes, Kafe Betawi, Prince of Persia, chocolate tiramisu, “sapi gosong”, Ratu Plaza, “Shrek 3D-Forever After”, durians, “Bangkok Traffic Love Story”, and D’cost. ;))

Thank you for being here on last weekend, Dear. :)

Thank you for anger, smiles, laughs, kisses, hugs, tears and all of those sweet things. :)

Thank you for loving me… :blushing:

We’ll make it in time, right!

Love you! :*

Kilat, petir, hujan, dan selimut yang hangat adalah teman yang paling menyenangkan saat mengingatmu.  :)

Miss you, Love! :*

Seminggu terakhir ini saya terlibat obrolan sersan *serius tapi santai* dengan Tuan. Berawal dari sebuah tulisan yang membicarakan tentang masa depan sepasang manusia yang dilanda asamara di satu blog, jadi deh kami berdua tersulut api asmara untuk membicarakannya dengan Tuan. Widih, gaya ya kami :lol: Ah, namanya juga berdiskusi :D

Dan kamipun ngobrol ngalor-nggidul tentang masa depan si anu, si itu, dan si ini. Pasti terlintas di benak kalian, kenapa peduli banget kami membicarakan masa depan si anu, si itu dan si ini *bener kan, ayo ngaku :mrgreen: * Kami peduli, karena kami berteman dengan si anu, si itu dan si ini. Tapi jangan salah, kami hanya berdiskusi berdua saja kok, dan hasil diskusi kami ya kami simpan berdua, bukan lantas disampaikan kepada yang bersangkutan. Karena si anu, si itu dan si ini sudah dewasa semua, sudah sepantasnya mereka tahu mana yang baik dan yang tidak dilakukan untuk merencanakan masa depan mereka :D

Ketika saya mendengar kata ‘masa depan’, yang akan terlintas di kepala saya adalah kata ‘harapan’ :) Ya, harapan untuk besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, lima tahun lagi dan seterusnya. Harapan-harapan yang akan berubah menjadi rencana, dan rencana-rencana yang akan diusahakan untuk diwujudkan :) Bukannya saya ingin mendahului kehendak Tuhan dengan memutuskan apa yang akan menjadi masa depan saya, tapi apa salahnya jika saya memiliki harapan. Harapan yang baik bukan hanya untuk saya, melainkan juga untuk orang-orang di sekitar saya :)

Saya jadi teringat hubungan saya yang lalu dengan si mantan. Setelah berhubungan selama 3,5 tahun, akhirnya saya menyudahinya dengan alasan bahwa saya tidak punya masa depan dengannya. Bah! Bisa-bisanya saya berkata demikian, padahal saya bukan Tuhan yang bisa memutuskan apa yang terjadi besok. Saya memang bukan Tuhan yang bisa menjadikan apapun yang tidak mungkin menjadi mungkin, saya hanya mengambil kesimpulan dari apa yang telah saya rasakan dan saya dapat dari hubungan tersebut.

Saya dan mantan berbeda keyakinan, dan ini yang menjadi alasan paling mendasar buat saya untuk menyudahi hubungan tersebut. Lalu kenapa dulu saya menerima ajakannya untuk memulai sebuah hubungan dan bertahan sekian tahun? Nah ini dia yang tidak saya pikirkan di awal hubungan kami. Saat itu saya merasa masa depan itu nanti-nanti deh, yang penting jalani saja dulu, dan ternyata saya salah!

Bukannya saya menolak adanya hubungan dengan perbedaan keyakinan, saya dan orang tua hanya merasa tidak nyaman jika harus menjalani hal itu. Jujur saja, sebelum menikah, mama saya seorang muslim, tapi karena dia percaya bahwa masa depannya ada bersama Yesus dengan gandengan dari papa, maka dia memutuskan untuk berpindah keyakinan :)

Jalan satu tahun, saya mempertanyakan hal ini kepada si mantan, tapi jawaban dia sama seperti apa yang saya pikirkan dulu di awal. Tahun ke-dua berakhir saya pun kembali mencoba untuk mendiskusikannya, tapi jawaban yang saya dapat masih sama. Demikian halnya di tahun ke-tiga, tidak hanya satu kali saya mempertanyakan ini, dan saya tetap tidak mendapatkan jawaban yang berbeda. Dan akhirnya, selesai sudah.

Kita memang tidak bisa memutuskan apa yang akan terjadi dalam hidup kita, tapi saya selalu percaya kita bisa merencanakan bagaimana masa depan kita nanti. Berbekal usaha dan doa, bukankah Dia selalu mendengar :) Rencanakan masa depan yang baik untuk hidupmu, teman! Bukan hanya tentang cerita cinta, tetapi juga dalam keseluruhan hidupmu, harapan dan cita-citamu. Dan jangan lupa, harapan yang baik bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan juga untuk orang-orang di sekitar kita :)

Seperti saya dan Tuan yang sedang merencanakan sesuatu yang indah untuk masa depan kami *kedip-kedipin Tuan* :)

gambar diambil dari sini

Hari ketiga di bulan Maret, dan waktu pun tak pernah bisa diajak kompromi…

Kalau Maret tahun lalu saya dan Tuan bersenang-senang dengan mengunjungi Karimun Jawa, maka Maret tahun ini akan kami lewati dengan menikmati hari-hari terakhir saya di Jogja yang tidak sampai sebulan lagi. Sayangnya saya dan Tuan tidak bisa melakukan perjalanan seperti yang kami lakukan Maret tahun lalu karena Tuan harus kuliah dan dia pun tak mungkin meninggalkan pekerjaannya pada saat weekdays :(

Ya, saya akan pindah ke Jakarta untuk bekerja di sebuah kantor akuntan publik *dan juga tetap melanjutkan kuliah*. Bakal capek? Pastinya! Mendengar cerita beberapa teman yang bekerja di kantor akuntan publik, saya agak takut menghadapi bagaimana pekerjaan saya nanti, karena menurut mereka bekerja sebagai seorang auditor *apalagi junior auditor* harus siap mental dan fisik baja *halah, lebay*. Tapi, kalau saya tidak mencoba, saya tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya bekerja di kantor akuntan publik. Toh yang namanya pekerjaan pasti melelahkan ;)

Trus kuliah gimana kan belum selesai? Untungnya kampus saya itu mempunyai program “kelas Jakarta”, jadilah saya bisa mengambil 4 mata kuliah yang tertunda *jangan tanya alasannya kenapa* di Jakarta ;) apakah saya bisa menyeimbangkan pekerjaan dan kuliah saya? Harus bisa, nanti kalau saya ga lulus-lulus, bisa-bisa Tuan ga mau ngelamar saya *halah* Doakan saya yah :D

Bagaimana dengan Tuan? Ya, mau tidak mau saya dan Tuan harus merasakan yang namanya long distance relationship. Semoga kami berdua menjadi semakin dewasa menyikapi semua yang akan kami jalani nanti :) Ngomong-ngomong soal LDR, kagum banget sama mbak Nings yang telah berhasil mempertahankan LDR Indonesia-Bolivia selama 7 tahun dan berakhir di pelaminan, so sweet *berkaca-kaca terharu* Semoga kami bisa mengikuti kisah sukses mbak Nings ^^

Doakan saya bisa melewati masa probation 3 bulan ini yaaah, biar bisa jadi karyawan tetap, hihihi… ^^v
Doakan saya bisa menyelesaikan kuliah akhir tahun ini yaaah *lirik Tuan* ^^v
Doakan saya dan Tuan bisa melewati masa-masa LDR yaahh… *tak sabar menunggu Tuan menyusul ke Jakarta* ^^v

Pesan moral yang akan saya sampaikan dalam posting-an ini *halah, apa sih* :
Dan begitulah, kita manusia hanya bisa merencanakan sebuah perjalanan, berhasil atau tidaknya perjalanan itu nanti, percayakanlah kepada-Nya :)