photo was taken from Anne’s Flickr
Dear Father,
It’s not easy to be like an Abram…
But I will try my best to keep walking because I know that You will always be there, in a heart of mine…
photo was taken from Anne’s Flickr
Dear Father,
It’s not easy to be like an Abram…
But I will try my best to keep walking because I know that You will always be there, in a heart of mine…
Hai hai semuaaaa…
Kangen ga sama saya? *ditimpuk sepatu*
Udah lama banget ya saya ga update blog
Maapkeun saya, mood nulisnya lagi ga dibawa terbang sama angin *ahlesyan* Oke, ga usah pake basa-basi, saya mau langsung berbagi cerita tentang orang ke tiga.
Pernah jadi orang ke tiga? Menurut saya, semua orang pernah merasakan bagaimana menjadi orang ke tiga. Buat saya, menjadi orang ke tiga seringkali membuat saya terhibur. Eits, jangan berpikiran negatif dulu ya
Orang ke tiga yang saya maksud di sini adalah orang yang terlibat secara tidak langsung. Dengan kata lain, merupakan orang yang tidak sengaja mendengar pembicaraan yang terjadi di sekitarnya.
Saya seringkali berada di posisi orang ketiga ini
dan tidak jarang saya tersenyum mendengar pembicaraan-pembicaraan yang terjadi di sekitar saya itu. Berikut saya akan membagi beberapa potongan-potongan pembicaraan yang pernah saya dengar, semoga membuat anda turut tersenyum
Pembicaraan 1
A : “Kapan nih kita beli Iphone yang baru itu? Orang-orang udah pada pake Iphone nih, masa kita ketinggalan…”
B : “Lo pengen banget ya? Gue belom tanya nih harganya. Tapi gue ga ngerti nih pake Iphone, gimana dong?”
Pembicaraan 2
Anak : “Mama, ayo dong cepetan, aku haus ni, maenan fesbuk mulu deh…”
Mama : “Iya, sebentar ah, udah pilih sandal dulu sana.”
Pembicaraan 3
C : “Waktu gue jalan-jalan ke Hongkong kemaren, gila dah berasa paling miskin di dunia gitu…”
D : “Lha kenapa?”
C : “Jadi ada tuh daerah dengan toko-toko berjejer yang isinya barang-barang yang bermerek dan harganya gila-gilaan gitu…”
Pembicaraan 4
E : “Mas, merek anu lagi diskon besar-besaran tuh di mall situ.”
F : “Lha terus? Kenapa bilangnya ke aku?”
E : “Ya siapa tau mau beliin…”
Pembicaraan 5
G : “Aduh bapak, saya udah mau pulang nih, office hour kan udah close pak…”
H : “Iya, masa ga ada waktu sebentar si buat nyelesain matters yang ini? Deadline report kan bentar lagi…”
G : “Saya capek nih, Pak. Udah tiap hari saya pulang jam 1 malem mulu dari kantor. Bapak ga kasian apa sama saya?”
Seminggu terakhir ini saya terlibat obrolan sersan *serius tapi santai* dengan Tuan. Berawal dari sebuah tulisan yang membicarakan tentang masa depan sepasang manusia yang dilanda asamara di satu blog, jadi deh kami berdua tersulut api asmara untuk membicarakannya dengan Tuan. Widih, gaya ya kami
Ah, namanya juga berdiskusi
Dan kamipun ngobrol ngalor-nggidul tentang masa depan si anu, si itu, dan si ini. Pasti terlintas di benak kalian, kenapa peduli banget kami membicarakan masa depan si anu, si itu dan si ini *bener kan, ayo ngaku :mrgreen: * Kami peduli, karena kami berteman dengan si anu, si itu dan si ini. Tapi jangan salah, kami hanya berdiskusi berdua saja kok, dan hasil diskusi kami ya kami simpan berdua, bukan lantas disampaikan kepada yang bersangkutan. Karena si anu, si itu dan si ini sudah dewasa semua, sudah sepantasnya mereka tahu mana yang baik dan yang tidak dilakukan untuk merencanakan masa depan mereka
Ketika saya mendengar kata ‘masa depan’, yang akan terlintas di kepala saya adalah kata ‘harapan’
Ya, harapan untuk besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, lima tahun lagi dan seterusnya. Harapan-harapan yang akan berubah menjadi rencana, dan rencana-rencana yang akan diusahakan untuk diwujudkan
Bukannya saya ingin mendahului kehendak Tuhan dengan memutuskan apa yang akan menjadi masa depan saya, tapi apa salahnya jika saya memiliki harapan. Harapan yang baik bukan hanya untuk saya, melainkan juga untuk orang-orang di sekitar saya
Saya jadi teringat hubungan saya yang lalu dengan si mantan. Setelah berhubungan selama 3,5 tahun, akhirnya saya menyudahinya dengan alasan bahwa saya tidak punya masa depan dengannya. Bah! Bisa-bisanya saya berkata demikian, padahal saya bukan Tuhan yang bisa memutuskan apa yang terjadi besok. Saya memang bukan Tuhan yang bisa menjadikan apapun yang tidak mungkin menjadi mungkin, saya hanya mengambil kesimpulan dari apa yang telah saya rasakan dan saya dapat dari hubungan tersebut.
Saya dan mantan berbeda keyakinan, dan ini yang menjadi alasan paling mendasar buat saya untuk menyudahi hubungan tersebut. Lalu kenapa dulu saya menerima ajakannya untuk memulai sebuah hubungan dan bertahan sekian tahun? Nah ini dia yang tidak saya pikirkan di awal hubungan kami. Saat itu saya merasa masa depan itu nanti-nanti deh, yang penting jalani saja dulu, dan ternyata saya salah!
Bukannya saya menolak adanya hubungan dengan perbedaan keyakinan, saya dan orang tua hanya merasa tidak nyaman jika harus menjalani hal itu. Jujur saja, sebelum menikah, mama saya seorang muslim, tapi karena dia percaya bahwa masa depannya ada bersama Yesus dengan gandengan dari papa, maka dia memutuskan untuk berpindah keyakinan
Jalan satu tahun, saya mempertanyakan hal ini kepada si mantan, tapi jawaban dia sama seperti apa yang saya pikirkan dulu di awal. Tahun ke-dua berakhir saya pun kembali mencoba untuk mendiskusikannya, tapi jawaban yang saya dapat masih sama. Demikian halnya di tahun ke-tiga, tidak hanya satu kali saya mempertanyakan ini, dan saya tetap tidak mendapatkan jawaban yang berbeda. Dan akhirnya, selesai sudah.
Kita memang tidak bisa memutuskan apa yang akan terjadi dalam hidup kita, tapi saya selalu percaya kita bisa merencanakan bagaimana masa depan kita nanti. Berbekal usaha dan doa, bukankah Dia selalu mendengar
Rencanakan masa depan yang baik untuk hidupmu, teman! Bukan hanya tentang cerita cinta, tetapi juga dalam keseluruhan hidupmu, harapan dan cita-citamu. Dan jangan lupa, harapan yang baik bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan juga untuk orang-orang di sekitar kita
Seperti saya dan Tuan yang sedang merencanakan sesuatu yang indah untuk masa depan kami *kedip-kedipin Tuan*
gambar diambil dari sini
‘Ndableg‘… mungkin itu kata yang tepat untuk diucapkan kepada saya hari ini. Ndableg yang merupakan bahasa Jawa itu digunakan kepada seseorang yang sudah diberikan nasihat, tapi masih membandel juga. Terimakasih Sandal, Mba Med, dan Nico yang sudah membantu memberikan arti yang mudah dipahami ;) Lalu, kenapa kata itu tepat buat saya? Ya, karena saya ndableg! Halah, malah muter-muter jadinya :P
Jadi gini ceritanya, tadi pagi penyakit lama saya itu kambuh lagi. Selama tiga tahun terakhir ini, memang beberapa kali sakit, tetapi tidak separah kemarin pagi. Kronologisnya begini, kemarin pagi ketika saya bangun, saya sudah mulai ‘anyang-anyangan’. Anyang-anyangan itu apa ya bahasa Indonesia-nya, saya juga bingung, bahasa Indonesia itu sulit lho :P
Kalau pada saat anyang-anyangan, yang dirasa itu seperti mau buang air kecil, tapi susah dan agak sakit. Nah, kemarin pagi itu, yang saya rasa bukan agak sakit lagi, melainkan sangat sakit. Saya pikir hanya anyang-anyangan biasa dan akan hilang beberapa saat kalau saya minum air putih agak banyak. Saya pun berisap-siap berangkat kuliah, karena memang ada kelas manajemen stratejik pagi itu.
Ketika sampai di kelas, rasa sakitnya tak kunjung mereda. Duduk saya jadi serba salah, karena memang rasa sakitnya makin menjadi, ditambah lagi saya ingin sekali buang air kecil. Sang dosen yang sedang rewel membuat saya harus menahan selama setengah jam untuk tidak pergi ke toilet. Pada saat saya buang air kecil, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi karena air seni saya tidak bisa lancar keluar seperti biasanya. Sekembalinya saya ke kelas, saya langsung menghubungi bapak saya sambil menangis karena saya tidak kuat lagi menahan sakit. Bapak saya menganjurkan supaya saya memeriksakan diri ke dokter pagi itu juga. Sang dosen yang sudah melihat saya menangis pun mengizinkan saya untuk meninggalkan kelas.
Dengan diantar seorang teman, saya pergi ke salah satu rumah sakit swasta di mana dokter urologi saya membuka praktek. Namun, sesampainya di sana saya mendapatkan informasi bahwa sang dokter sudah tak membuka praktek di sana, dan parahnya lagi dokter urologi penggantinya sedang cuti dan pergi ke Belanda. Untungnya karyawan rumah sakit tersebut memberikan informasi di mana dokter lama saya itu membuka praktek, tanpa banyak babibu, saya mendatangi tempatnya yang ternyata sebuah rumah sakit urologi. Rumah sakitnya memang rumah sakit kecil, tapi karena dokter saya ini merupakan dokter lama yang saya percaya jadilah saya tetap memeriksakan diri di sana, ditambah lagi dokter urologi yang pernah memeriksa saya di Lampung memberikan referensi dokter tersebut kalau-kalau saya harus berobat di Jogja.
Sesampainya di rumah sakit urologi, saya tidak dapat menemui sang dokter karena beliau masih berada di rumah sakit umum kebanggaan kota ini *halah*. Jadi mau tak mau saya harus menunggu sampai jam setengah dua belas. Sambil menunggu saya diperiksa oleh dokter jaga karena saya tidak kuat lagi menahan sakitnya. Dokter jaga pun melakukan USG, dan hasilnya anak dalam kandungan saya laki-laki dia melihat ada bayangan di ginjal saya yang dicurigai batu. Namun, dokter jaga belum bisa memastikan karena dia hanya dokter jaga, dan saya harus menunggu dokter spesialis memeriksa untuk memberikan kepastiannya. Selain itu dokter jaga juga menyuntikkan obat penghilang nyeri supaya saya tidak terlalu kesakitan.
Akhirnya sang dokter urologi pun datang jam setengah dua belas lewat, dan saya langsung diperiksa. Bagian pinggang kanan belakang dan perut sebelah kanan pun kembali menjadi sasaran USG. Dan tak lama kemudian dokter urologi pun memberitahukan bahwa memang ada batu kecil yang terletak di antara piala ginjal dan saluran ureter, sehingga membuat saya merasa nyeri ketika buang air kecil. Kaget? Tentu saja tidak, dari gejala yang saya alami sepagian itu saya sudah bisa menebak bahwa batu ginjal saya membesar dibandingkan tiga tahun yang lalu.
Lalu apa hubungannya dengan ndableg? Sejak tiga tahun lalu, ketika mengetahui bahwa ada batu di ginjal saya, orang tua dan orang-orang terdekat saya tak henti-hentinya mengingatkan untuk minum air putih yang cukup. Namun, karena saya ndableg, saya tidak mengindahkan semua nasehat-nasehat itu. Dan hasil dari ke-ndableg-an saya ini berujung pada ESWL yang dilakukan pada saya yang dijadwalkan siang ini.
Beruntungnya tindakan yang dilakukan kepada saya hanya ESWL untuk memecahkan batu di ginjal saya. Saya tak perlu mengalami apa yang namanya operasi. Cukup tidur manis dan menikmati tembakan gelombang suara ultrasonik. Pada awal saya masuk ruangan ESWL, saya merasa takut, karena melihat alat ESWL tersebut. namun, setelah proses ESWL berjalan, rasa takut saya berkurang karena yang terasa di kulit hanya seperti dijepret karet. ESWL hanya berlangsung lima belas menit, dokter bilang hanya seribu tembakan karena batu di ginjal saya tidak terlalu besar. Pasien sebelum saya harus ditembak lima ribu kali karena ukuran batu mencapai 7 cm. Setelah selesai, saya harus menunggu 1,5 sampai 2 jam untuk melihat jikalau ada efek samping yang dirasakan.
foto diambil oleh Tuan.
Setelah 2 jam tidak ada efek samping yang saya rasakan, saya diperbolehkan pulang. Tetapi saya diharuskan kontrol lagi ke dokter hari selasa depan untuk melihat perkembangannya.
Ayo jangan pada ndableg kayak saya, minum air putih yang banyak yaaahhh…

gambar dipinjam dari sini