Masih pake baju yang sama seharian ini, bahkan baju hangat pun ga dibuka. Rebahan di tempat tidur, mikirin kebodohan yang menyebabkan kesalahpahaman. Good job, ‘nang! Rasakan!
Damn, P.M.S!!! Membuat semua emosi menggelegak…
Masih pake baju yang sama seharian ini, bahkan baju hangat pun ga dibuka. Rebahan di tempat tidur, mikirin kebodohan yang menyebabkan kesalahpahaman. Good job, ‘nang! Rasakan!
Damn, P.M.S!!! Membuat semua emosi menggelegak…
Seminggu terakhir ini saya terlibat obrolan sersan *serius tapi santai* dengan Tuan. Berawal dari sebuah tulisan yang membicarakan tentang masa depan sepasang manusia yang dilanda asamara di satu blog, jadi deh kami berdua tersulut api asmara untuk membicarakannya dengan Tuan. Widih, gaya ya kami
Ah, namanya juga berdiskusi
Dan kamipun ngobrol ngalor-nggidul tentang masa depan si anu, si itu, dan si ini. Pasti terlintas di benak kalian, kenapa peduli banget kami membicarakan masa depan si anu, si itu dan si ini *bener kan, ayo ngaku :mrgreen: * Kami peduli, karena kami berteman dengan si anu, si itu dan si ini. Tapi jangan salah, kami hanya berdiskusi berdua saja kok, dan hasil diskusi kami ya kami simpan berdua, bukan lantas disampaikan kepada yang bersangkutan. Karena si anu, si itu dan si ini sudah dewasa semua, sudah sepantasnya mereka tahu mana yang baik dan yang tidak dilakukan untuk merencanakan masa depan mereka
Ketika saya mendengar kata ‘masa depan’, yang akan terlintas di kepala saya adalah kata ‘harapan’
Ya, harapan untuk besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, lima tahun lagi dan seterusnya. Harapan-harapan yang akan berubah menjadi rencana, dan rencana-rencana yang akan diusahakan untuk diwujudkan
Bukannya saya ingin mendahului kehendak Tuhan dengan memutuskan apa yang akan menjadi masa depan saya, tapi apa salahnya jika saya memiliki harapan. Harapan yang baik bukan hanya untuk saya, melainkan juga untuk orang-orang di sekitar saya
Saya jadi teringat hubungan saya yang lalu dengan si mantan. Setelah berhubungan selama 3,5 tahun, akhirnya saya menyudahinya dengan alasan bahwa saya tidak punya masa depan dengannya. Bah! Bisa-bisanya saya berkata demikian, padahal saya bukan Tuhan yang bisa memutuskan apa yang terjadi besok. Saya memang bukan Tuhan yang bisa menjadikan apapun yang tidak mungkin menjadi mungkin, saya hanya mengambil kesimpulan dari apa yang telah saya rasakan dan saya dapat dari hubungan tersebut.
Saya dan mantan berbeda keyakinan, dan ini yang menjadi alasan paling mendasar buat saya untuk menyudahi hubungan tersebut. Lalu kenapa dulu saya menerima ajakannya untuk memulai sebuah hubungan dan bertahan sekian tahun? Nah ini dia yang tidak saya pikirkan di awal hubungan kami. Saat itu saya merasa masa depan itu nanti-nanti deh, yang penting jalani saja dulu, dan ternyata saya salah!
Bukannya saya menolak adanya hubungan dengan perbedaan keyakinan, saya dan orang tua hanya merasa tidak nyaman jika harus menjalani hal itu. Jujur saja, sebelum menikah, mama saya seorang muslim, tapi karena dia percaya bahwa masa depannya ada bersama Yesus dengan gandengan dari papa, maka dia memutuskan untuk berpindah keyakinan
Jalan satu tahun, saya mempertanyakan hal ini kepada si mantan, tapi jawaban dia sama seperti apa yang saya pikirkan dulu di awal. Tahun ke-dua berakhir saya pun kembali mencoba untuk mendiskusikannya, tapi jawaban yang saya dapat masih sama. Demikian halnya di tahun ke-tiga, tidak hanya satu kali saya mempertanyakan ini, dan saya tetap tidak mendapatkan jawaban yang berbeda. Dan akhirnya, selesai sudah.
Kita memang tidak bisa memutuskan apa yang akan terjadi dalam hidup kita, tapi saya selalu percaya kita bisa merencanakan bagaimana masa depan kita nanti. Berbekal usaha dan doa, bukankah Dia selalu mendengar
Rencanakan masa depan yang baik untuk hidupmu, teman! Bukan hanya tentang cerita cinta, tetapi juga dalam keseluruhan hidupmu, harapan dan cita-citamu. Dan jangan lupa, harapan yang baik bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan juga untuk orang-orang di sekitar kita
Seperti saya dan Tuan yang sedang merencanakan sesuatu yang indah untuk masa depan kami *kedip-kedipin Tuan*
gambar diambil dari sini
Akhirnya saya update blog, gyahahahaha… Setelah menunda-nunda, sampe lupa beberapa bahan tulisan, saya pun memaksa diri untuk memeluk si Kecil
Buat kalian yang mengikuti saya di Twitter, masih ingat salah satu tweet saya malam minggu kemarin? Kalo ga inget atau pas ga liat twitter, nih saya kasih skrinsyutnya
Ya, malam minggu kemarin saya bercucuran air mata! Putus? Jangan sampe dong :P Dapet nilai jelek? Saya lagi ga kuliah trimester ini
Dicuekin pacar? Ngga koq, pas saya bercucuran air mata malah Tuan yang mengusap semua air mata saya sambil bilang, “jangan nangis terus dong…”
Lha terus kenapa dong?
Jadi ceritanya malam minggu kemarin saya dan tuan pergi double death *baca: kencan bareng* sama pasangan imut nan baik hati-dua sahabat yang juga teman kuliah saya. Malam itu kami nonton film-nya si Om Ganteng- My Name is Khan. Dan film inilah yang membuat saya bercucuran air mata di malam minggu, dem! Buat kalian yang udah nonton film-nya, saya ga perlu certain lagi dong ya gimana jalan cerita film ini ;) Dan buat kalian yang belum nonton, saya juga ga mau cerita deh, biar nanti ga dibilang spoiler *ahlesyan* :mrgreen:
gambar diambil dari sini
Pesan yang dibawa film ini sih menurut saya bagus, bagaimana kita seharusnya bisa saling menghargai, menghormati dan saling menolong sekalipun perbedaan ada di antara kita semua, ga peduli agama, ras, warna kulit, adat, suku dan lain-lain yang dianggap perbedaan
Film ini juga bercerita tentang kehilangan, ini sih yang paling membuat saya bercucuran air mata tak henti-henti. Alasannya masih sama seperti 1,5 tahun yang lalu ketika saya menangis pada saat nonton laskar pelangi *berusaha tahan untuk ga nangis*
Film ini memang tidak sebagus Avatar atau Hurt locker yang menyabet beberapa penghargaan Oscar, tapi layak tontonlah, apalagi buat kamu-kamu yang suka film drama dan yang gampang nangis seperti saya :P *p.s. Awas ya, jangan ada yang berani-beraninya nangis di depan saya, nanti saya bisa ikutan nangis :| *
Yang saya ga suka dari film ini, di ending ada beberapa adegan yang menurut saya ga oke
khas film India banget deh :P Padahal selama tiga-perempat film saya udah larut sama jalan cerita, pake bercucuran air mata segala lagi, huh… Yang paling saya suka dari film ini, tentu saja karena ada si Om :cool: selain karena aktingnya yang bagus, dia juga masih ganteng bangeeeeettt!!! *mimisan* :mrgreen:
Jadi, apakah kalian pengen mimisan juga seperti saya? :P
Hari ketiga di bulan Maret, dan waktu pun tak pernah bisa diajak kompromi…
Kalau Maret tahun lalu saya dan Tuan bersenang-senang dengan mengunjungi Karimun Jawa, maka Maret tahun ini akan kami lewati dengan menikmati hari-hari terakhir saya di Jogja yang tidak sampai sebulan lagi. Sayangnya saya dan Tuan tidak bisa melakukan perjalanan seperti yang kami lakukan Maret tahun lalu karena Tuan harus kuliah dan dia pun tak mungkin meninggalkan pekerjaannya pada saat weekdays
Ya, saya akan pindah ke Jakarta untuk bekerja di sebuah kantor akuntan publik *dan juga tetap melanjutkan kuliah*. Bakal capek? Pastinya! Mendengar cerita beberapa teman yang bekerja di kantor akuntan publik, saya agak takut menghadapi bagaimana pekerjaan saya nanti, karena menurut mereka bekerja sebagai seorang auditor *apalagi junior auditor* harus siap mental dan fisik baja *halah, lebay*. Tapi, kalau saya tidak mencoba, saya tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya bekerja di kantor akuntan publik. Toh yang namanya pekerjaan pasti melelahkan ;)
Trus kuliah gimana kan belum selesai? Untungnya kampus saya itu mempunyai program “kelas Jakarta”, jadilah saya bisa mengambil 4 mata kuliah yang tertunda *jangan tanya alasannya kenapa* di Jakarta ;) apakah saya bisa menyeimbangkan pekerjaan dan kuliah saya? Harus bisa, nanti kalau saya ga lulus-lulus, bisa-bisa Tuan ga mau ngelamar saya *halah* Doakan saya yah
Bagaimana dengan Tuan? Ya, mau tidak mau saya dan Tuan harus merasakan yang namanya long distance relationship. Semoga kami berdua menjadi semakin dewasa menyikapi semua yang akan kami jalani nanti
Ngomong-ngomong soal LDR, kagum banget sama mbak Nings yang telah berhasil mempertahankan LDR Indonesia-Bolivia selama 7 tahun dan berakhir di pelaminan, so sweet *berkaca-kaca terharu* Semoga kami bisa mengikuti kisah sukses mbak Nings ^^
Doakan saya bisa melewati masa probation 3 bulan ini yaaah, biar bisa jadi karyawan tetap, hihihi… ^^v
Doakan saya bisa menyelesaikan kuliah akhir tahun ini yaaah *lirik Tuan* ^^v
Doakan saya dan Tuan bisa melewati masa-masa LDR yaahh… *tak sabar menunggu Tuan menyusul ke Jakarta* ^^v
Pesan moral yang akan saya sampaikan dalam posting-an ini *halah, apa sih* :
Dan begitulah, kita manusia hanya bisa merencanakan sebuah perjalanan, berhasil atau tidaknya perjalanan itu nanti, percayakanlah kepada-Nya