1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar


Posts Tagged ‘hujan’

Berharap hujan membawa semua air mata yang kumiliki supaya tak ada lagi tangis yang tercipta, supaya tak ada lagi sedih yang mendera…

Dan hanya ada kamu, senyummu, dan cintamu yang menemani…

Lalu, apa yang kamu harap ketika hujan turun?

Kemarin malam saya jalan-jalan ke blog teman lama saya, Keyza. Blognya merupakan salah satu blog yang sering saya kunjungi. Kenapa? Karena terkadang, ketika saya seringkali merasa penat, capek, dan sedih, tulisannya itu menghibur saya. Saya bisa dibuat senyum-senyum sendiri di kamar membaca tulisannya yang apa adanya dan cenderung ‘bocor’ itu.

Di salah satu postingannya saya menemukan link untuk mengunduh lagu milik Coffee and Cream. Saya yang baru pertama kali mendengar nama band itu, merasa kuno sekali tidak mengikuti perkembangan lagu-lagu sekarang. Tanpa babibu, saya langsung mengunduh lagu tersebut. Lagu pertama yang saya dengar berjudul hujan. Malam itu, saya yang memang sedang sensi berlebih, mudah marah, melow, dan sedih dua minggu ini, menjadi lumer seketika. Lagunya simple, ga macem-macem, dan memang benar apa yang dikatakan oleh Key, cocok didengar kalo lagi mellow.

Setelah selesai mendengarnya, saya langsung menghubungi Key lewat messenger malam itu juga. Saya menanyakan apakah ada lagu lain yang bisa saya dengar untuk menemani saya malam itu. Pucuk dicinta, ulam pun tiba, Key memberikan dua link lagu Coffee and Cream yang bisa saya unduh. Dua lagu tersebut berjudul Selama aku masih bisa dan Hanya padamu. Terimakasih Key, saya suka sekali lagu-lagunya… ;)

Mengikuti jejak Key, saya ingin membagi-bagikan link-nya buat kalian yang belum pernah mendengar lagunya. Key bilang, “Makin banyak yang denger, gue makin suka…”

Monggo… Silahkan diunduh…

Hujan
Selama aku masih bisa
Hanya padamu

Senja sudah menyambut, tapi perempuan itu masih saja duduk memandangi hujan yang tak kunjung berhenti dari balik kaca sebuah coffeshop. Entah sudah berapa lama ia duduk di sana. Remang cahaya tempat itu membuatnya merasa nyaman. Dengan begitu orang-orang di dalam coffeshop itu tidak akan memperhatikan wajah yang didera gundah.

Perempuan itu duduk bersama sahabat kecilnya. Tak ada yang dibicarakan sejak mereka sampai di sana. Sahabatnya tahu, perempuan itu ingin menceritakan sesuatu. Namun ia tak tergesa bertanya, ia tahu perempuan itu butuh waktu untuk menata suasana. Ia hanya diam, menunggu perempuan itu membuka mulutnya.

“Hampir saja…” perempuan itu memulainya.

“Hampir saja, kesalahan itu terulang lagi. Padahal aku sudah berjanji. Kamu masih ingat janjiku?” ditambahkannya lagi. Ia memalingkan muka ke arah sahabatnya sesaat, lalu kembali memandangi hujan.

Ia diam. Tak dilanjutkan lagi kata-katanya.

Sahabatnya menunggu sejenak sembari diteguknya hot chocolate yang mulai dingin. Ia berharap perempuan itu melanjutkan kalimatnya, tapi ternyata tidak. Tak lama, sahabatnya itu pun berkata, “Kita hanya manusia biasa. Dan godaan akan selalu datang merayu. Tapi aku tahu kamu bisa…”

“Bisa. Sampai hari ini aku masih bisa. Itupun sudah dua kali hampir ku ingkari janjiku sendiri. Lalu, bagaimana dengan esok?” perempuan itu menyela dan setengah berteriak sebelum sempat sahabatnya itu menyelesaikan kalimatnya. Ia menoleh ke arah sahabatnya sekejap, menatap matanya, lalu kembali memandangi hujan yang semakin deras.

“Aku memang hanya janji pada diriku sendiri. Tapi sungguh aku tak ingin kebodohan-kebodohan masa lalu itu terulang lagi.” lanjut perempuan itu lagi.

“Esok akan tetap datang, Nduk. Dan kamu akan tetap menunaikan janjimu. Ada aku, sahabatmu. Ada dia, yang kamu cintai. Ada mereka, yang kamu sayangi. Dan kami, akan selalu ada.” lembut suara sahabatnya itu, seperti ada sebentuk kehangatan yang menjalar.

Tak ada bantahan lagi. Hanya sedikit senyum menyembul di wajah perempuan itu. Tak banyak memang, tapi sahabatnya tahu perempuan itu tak membutuhkan lagi remang cahaya.

A friend in need is a friend indeed.