1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar


Posts Tagged ‘teman tidur’

Siang itu, panas terik menyengat kulit saya. Saya yang sepulang dari kampus memutuskan untuk mampir sejenak ke kost Tuan untuk mengembalikan helm dan mengajaknya makan siang. Sesampainya di sana, saya hanya mendapati pintu kamar yang terkunci dari luar.

Saya bukannya datang mendadak, sehari sebelumnya saya sudah memberitahunya bahwa saya akan datang sepulangnya dari kampus. Tidak disangka-sangka, ujian hari itu hanya memakan waktu satu setengah jam, jadilah saya bisa datang lebih cepat. Bahkan sesaat sebelum meninggalkan kampus, saya mengirimkan pesan kepada Tuan bahwa saya akan datang ke tempatnya.

Namun, seperti yang saya katakan di awal tadi, saya tdak mendapati Tuan di kostnya. Ketika saya ingin menghubunginya, saya mendapati pesan baru di handphone saya.

From: Lovely, Tuan
Kok cepet banget? Aku lagi di luar :(

Saya langsung menghubunginya saat itu juga, dan percakapan singkat itu pun terjadi…

Nyonya (N) : “Kamu dimana?”
Tuan (T) : “Lah, kamu ga baca pesanku?”
N : “Iya tahu, di luar di mana? Aku dah di tempatmu nih…”
T : “Di luar. Yah, kamu cepet banget keluar ujiannya?”
N : ”Di luar mana sih?”
T : “Ah, ga mau ngasi tahu, ntar kamu marah lagi…”
N : “Koq gitu? Emangnya di mana sih?”
T : “Ah, udah ah, nanti kamu marah lagi.”
N : “Ah, ya udah deh, aku mau pulang, mau ke vito…”
T : “Ya udah, kamu pulang dulu nanti aku jemput.”
N : ”Ah, ya udahlah aku pulang.”

Kesal?? Tentu saja. Saat itu saya merasa ada yang disembunyikan dari saya. Lihat saja dari perkataannya itu. Saya lantas memutuskan untuk bergegas pulang saat itu juga.

Sesampainya di kost, saya melihat handphone. Ada dua pesan baru dan satu panggilan tak terjawab dari Tuan.

From : Lovely, Tuan
Maaf yah.. Aku keluar ga bilang. Ntar aku certain deh. Abis aku kira kamu jadi ikut rapat :(

From : Lovely, Tuan
Kamu dimana? Aku jemput ke tempatmu sekarang deh..

Belum lagi saya sempat membalas, Tuan sudah menghubungi saya lagi. Ia mengatakan bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju kost saya. Tak sampai limabelas menit berlalu, Tuan menghubungi lagi. Ia mengatakan bahwa ia sudah sampai.

Saya bergegas keluar kamar membukakan pintu gerbang kost. Sesampainya di luar, saya tidak mendapati motor Tuan, saya hanya melihat sebuah taksi berwarna pink berhenti di depan kost. Bersamaan dengan saya membuka gerbang, pintu taksi tersebut juga terbuka dan Tuan pun muncul dari dalamnya dengan Si Besar itu beserta satu buket bunga mawar.

“Nih, buat kamu…” hanya itu yang ia katakan sambil melempar senyum usil khasnya itu.

Sesaat saya terdiam. Saya tahu, laki-laki di hadapan saya ini tidak pandai berkata-kata romantis seperti sang lelananging jagad. Akan tetapi, perlakuan-perlakuannya yang manis kepada saya itu yang selalu membuat saya tidak ingin jauh-jauh darinya. Ini bukan pertama kali ia melakukan hal seperti ini kepada saya, dan ia selalu sukses membuat saya terkejut.

Kini, saya punya teman tidur baru. Tempat tidur saya yang sebelumnya sudah penuh dengan beberapa boneka, kini terlihat penuh dengan hadirnya Si Besar. Ah, tak apalah saya tidur bersempit-sempitan dengan boneka-boneka itu, setidaknya Si Besar bisa menjadi tempat memeluk di kala malam menjemput.

Thanks a lot, Dear
I do love you… *hugs*

Si Besar