1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar


Posts Tagged ‘tuan’

9 Juli 2010 — Kawah Putih

“Pergi gak tau jalan akhirnya sampe juga berkat Google Maps! Seneng bisa pergi jauh dan tanpa rencana lagi sama kamu. Makasih Sayang.
Tuan.”

“Ga hanya berkat Google Maps, Abang… Tapi juga berkat saling percaya satu sama lain. Seandainya aku ga percaya sama kamu kalau kita pasti bisa sampe Kawah Putih ataupun kamu yang ga percaya, kita ga akan pernah sampe di sana. Makasih Sayang.
Nyonya.”

Untuk pertama kalinya saya menghasilkan uang dengan jerih payah saya sendiri. 8) Dan ketiga barang di atas ini merupakan barang-barang yang pertama saya beli. :blushing:

Satu buah dompet dibeli untuk saya sendiri sebagai self-reward *halah*. :music: Satu buah cermin yang sebenarnya juga untuk saya tapi papa yang nyuruh untuk membeli, saya beli di pameran kerajinan Inacraft 2010 di JCC Senayan Sabtu kemarin. Dan satu buah kemeja berwarna coklat *pilihan Tuan* saya beli untuk papa. :) Dua barang pertama saya beli karena saya memang membutuhkannya. Sedangkan barang terakhir saya beli karena saya ingin memberikan sesuatu untuk papa. Karena tanpa papa, mungkin saya tidak bisa tinggal dengan nyaman di ibukota negara ini. :)

Lalu, apa yang saya berikan pada Tuan? :blushing: Dia memang minta sesuatu sama saya, tapi sayangnya saya dan Tuan tidak akan pernah memberi tahu pada siapapun apa yang telah dia minta. Saya minta maaf kalau kalian yang membaca tulisan ini jadi agak penasaran. ;))

Begitulah saya menggunakan sebagian uang hasil jerih payah saya sendiri. Bagaimana dengan kalian, wahai para pekerja keras? Apakah kalian masih ingat gaji pertama kalian gunakan untuk apa? 8)

Setelah tertunda selama seminggu, akhirnya janji ke Tuan untuk membuat klapertaart pun terlaksana juga.  :blushing: Dan ini merupakan kue pertama yang saya bikin sendiri lho. ;)) Soal rasa, boleh ditanya ke Tuan:)

gambar diambil dari sini

Aiihh… Ga kerasa minggu pertama di kantor terlewati juga :) Gimana rasanya ngantor, Utet? Kalau boleh dijawab, belum kerasa apa-apa, abis baru training sih :-8 Seminggu kemarin saya menghabiskan 9 jam sehari di ruang kelas untuk training. 9 jam? Ya, 9 jam. Karena makan siang disediakan oleh kantor, jadinya saya tidak perlu ke luar untuk beli makan, jadilah 1 jam istirahat saya habiskan di ruangan itu juga :D Makan memang hanya membutuhkan waktu setengah jam, setengah jam sisanya dihabiskan untuk ngobrol sama temen-temen baru di kantor.

Seminggu kemarin training-nya lebih banyak berisi materi tentang perusahaan, nilai-nilai yang dimiliki perusahaan, budaya yang ada, code of conduct, sharing mulai dari entry level *kayak saya* sampai ke level yang paling tinggi, yang bahkan building safety yang berisi penjelasan evakuasi gedung pada saat terjadi bencana pun ada sesi-nya sendiri. Hayo, apakah perusahaan tempat kalian bekerja juga memberikan training seperti ini pada saat pertama kali kalian bekerja? ;) Karena menurut saya, training seperti ini sangat penting, membuat kita sebagai pekerja merasa lebih mengenal perusahaan dan *mudah-mudahan* lebih betah :p

Masih ada serangkaian training yang akan saya lakukan dalam dua minggu ke depan, saya berharap saya terus semangat :evil: Saya bersyukur punya Tuan yang *mudah-mudahan* ga bosen dengerin semua celotehan saya di telpon, di SMS, atau di messenger. Biarpun suka suntuk kalo pulang dari kantor,  XD bisa reda kalo udah berceloteh ria sama si Tuan :*

Ayo semangat terus, Utet! :)

Seminggu terakhir ini saya terlibat obrolan sersan *serius tapi santai* dengan Tuan. Berawal dari sebuah tulisan yang membicarakan tentang masa depan sepasang manusia yang dilanda asamara di satu blog, jadi deh kami berdua tersulut api asmara untuk membicarakannya dengan Tuan. Widih, gaya ya kami :lol: Ah, namanya juga berdiskusi :D

Dan kamipun ngobrol ngalor-nggidul tentang masa depan si anu, si itu, dan si ini. Pasti terlintas di benak kalian, kenapa peduli banget kami membicarakan masa depan si anu, si itu dan si ini *bener kan, ayo ngaku :mrgreen: * Kami peduli, karena kami berteman dengan si anu, si itu dan si ini. Tapi jangan salah, kami hanya berdiskusi berdua saja kok, dan hasil diskusi kami ya kami simpan berdua, bukan lantas disampaikan kepada yang bersangkutan. Karena si anu, si itu dan si ini sudah dewasa semua, sudah sepantasnya mereka tahu mana yang baik dan yang tidak dilakukan untuk merencanakan masa depan mereka :D

Ketika saya mendengar kata ‘masa depan’, yang akan terlintas di kepala saya adalah kata ‘harapan’ :) Ya, harapan untuk besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, lima tahun lagi dan seterusnya. Harapan-harapan yang akan berubah menjadi rencana, dan rencana-rencana yang akan diusahakan untuk diwujudkan :) Bukannya saya ingin mendahului kehendak Tuhan dengan memutuskan apa yang akan menjadi masa depan saya, tapi apa salahnya jika saya memiliki harapan. Harapan yang baik bukan hanya untuk saya, melainkan juga untuk orang-orang di sekitar saya :)

Saya jadi teringat hubungan saya yang lalu dengan si mantan. Setelah berhubungan selama 3,5 tahun, akhirnya saya menyudahinya dengan alasan bahwa saya tidak punya masa depan dengannya. Bah! Bisa-bisanya saya berkata demikian, padahal saya bukan Tuhan yang bisa memutuskan apa yang terjadi besok. Saya memang bukan Tuhan yang bisa menjadikan apapun yang tidak mungkin menjadi mungkin, saya hanya mengambil kesimpulan dari apa yang telah saya rasakan dan saya dapat dari hubungan tersebut.

Saya dan mantan berbeda keyakinan, dan ini yang menjadi alasan paling mendasar buat saya untuk menyudahi hubungan tersebut. Lalu kenapa dulu saya menerima ajakannya untuk memulai sebuah hubungan dan bertahan sekian tahun? Nah ini dia yang tidak saya pikirkan di awal hubungan kami. Saat itu saya merasa masa depan itu nanti-nanti deh, yang penting jalani saja dulu, dan ternyata saya salah!

Bukannya saya menolak adanya hubungan dengan perbedaan keyakinan, saya dan orang tua hanya merasa tidak nyaman jika harus menjalani hal itu. Jujur saja, sebelum menikah, mama saya seorang muslim, tapi karena dia percaya bahwa masa depannya ada bersama Yesus dengan gandengan dari papa, maka dia memutuskan untuk berpindah keyakinan :)

Jalan satu tahun, saya mempertanyakan hal ini kepada si mantan, tapi jawaban dia sama seperti apa yang saya pikirkan dulu di awal. Tahun ke-dua berakhir saya pun kembali mencoba untuk mendiskusikannya, tapi jawaban yang saya dapat masih sama. Demikian halnya di tahun ke-tiga, tidak hanya satu kali saya mempertanyakan ini, dan saya tetap tidak mendapatkan jawaban yang berbeda. Dan akhirnya, selesai sudah.

Kita memang tidak bisa memutuskan apa yang akan terjadi dalam hidup kita, tapi saya selalu percaya kita bisa merencanakan bagaimana masa depan kita nanti. Berbekal usaha dan doa, bukankah Dia selalu mendengar :) Rencanakan masa depan yang baik untuk hidupmu, teman! Bukan hanya tentang cerita cinta, tetapi juga dalam keseluruhan hidupmu, harapan dan cita-citamu. Dan jangan lupa, harapan yang baik bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan juga untuk orang-orang di sekitar kita :)

Seperti saya dan Tuan yang sedang merencanakan sesuatu yang indah untuk masa depan kami *kedip-kedipin Tuan* :)

gambar diambil dari sini