1. Skip to navigation
  2. Skip to content
  3. Skip to sidebar


Posts Tagged ‘tuan’

Hari ketiga di bulan Maret, dan waktu pun tak pernah bisa diajak kompromi…

Kalau Maret tahun lalu saya dan Tuan bersenang-senang dengan mengunjungi Karimun Jawa, maka Maret tahun ini akan kami lewati dengan menikmati hari-hari terakhir saya di Jogja yang tidak sampai sebulan lagi. Sayangnya saya dan Tuan tidak bisa melakukan perjalanan seperti yang kami lakukan Maret tahun lalu karena Tuan harus kuliah dan dia pun tak mungkin meninggalkan pekerjaannya pada saat weekdays :(

Ya, saya akan pindah ke Jakarta untuk bekerja di sebuah kantor akuntan publik *dan juga tetap melanjutkan kuliah*. Bakal capek? Pastinya! Mendengar cerita beberapa teman yang bekerja di kantor akuntan publik, saya agak takut menghadapi bagaimana pekerjaan saya nanti, karena menurut mereka bekerja sebagai seorang auditor *apalagi junior auditor* harus siap mental dan fisik baja *halah, lebay*. Tapi, kalau saya tidak mencoba, saya tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya bekerja di kantor akuntan publik. Toh yang namanya pekerjaan pasti melelahkan ;)

Trus kuliah gimana kan belum selesai? Untungnya kampus saya itu mempunyai program “kelas Jakarta”, jadilah saya bisa mengambil 4 mata kuliah yang tertunda *jangan tanya alasannya kenapa* di Jakarta ;) apakah saya bisa menyeimbangkan pekerjaan dan kuliah saya? Harus bisa, nanti kalau saya ga lulus-lulus, bisa-bisa Tuan ga mau ngelamar saya *halah* Doakan saya yah :D

Bagaimana dengan Tuan? Ya, mau tidak mau saya dan Tuan harus merasakan yang namanya long distance relationship. Semoga kami berdua menjadi semakin dewasa menyikapi semua yang akan kami jalani nanti :) Ngomong-ngomong soal LDR, kagum banget sama mbak Nings yang telah berhasil mempertahankan LDR Indonesia-Bolivia selama 7 tahun dan berakhir di pelaminan, so sweet *berkaca-kaca terharu* Semoga kami bisa mengikuti kisah sukses mbak Nings ^^

Doakan saya bisa melewati masa probation 3 bulan ini yaaah, biar bisa jadi karyawan tetap, hihihi… ^^v
Doakan saya bisa menyelesaikan kuliah akhir tahun ini yaaah *lirik Tuan* ^^v
Doakan saya dan Tuan bisa melewati masa-masa LDR yaahh… *tak sabar menunggu Tuan menyusul ke Jakarta* ^^v

Pesan moral yang akan saya sampaikan dalam posting-an ini *halah, apa sih* :
Dan begitulah, kita manusia hanya bisa merencanakan sebuah perjalanan, berhasil atau tidaknya perjalanan itu nanti, percayakanlah kepada-Nya :)

IMG00221-20090824-0655

Selamat ulang tahun, Sayang
Tidak ada hadiah yang lebih indah yang bisa aku berikan selain penggalan kata-kata permintaan yang selalu aku samapaikan pada-Nya untukmu…
Tuhan memberkati di setiap waktu yang ditambahkanNya kepadamu, Abang:)

Sayang kamu… *peluk cium*

Harusnya tulisan ini di-posting senin malam yang lalu, tapi apa daya tangan tak sampai *halah*

Sudah setahun rupanya :)

Happy birthday, Fivo!
Biarlah kerikil-kerikil yang membuat langkah kita sesekali tersandung setahun kemarin menjadikan kita lebih mengerti satu sama lain :)
Biarlah sukacita yang hadir di tengah kita setahun kemarin menjadi sukacita bagi orang di sekitar kita :)
Dan biarlah hanya Bapa saja yang mendengar apa yang menjadi harapan kita :)

Love you, Dear… *hugs and kisses*

Sudah lama saya ga memperbaharui isi blog saya ini, sekalinya posting isinya narsis :mrgreen:

Saya ga mau banyak-banyak bicara yang ga penting, langsung aja…

Buat kalian yang mau ngobrol-ngobrol bersama kami anak-anak CahAndong, yuk mari, dateng ke talkshow kami:

Sampai ketemu di sana yaaaa… ;)

Teringat tulisan Tuan yang ini, saya jadi teringat dua orang perempuan yang saya kenal hampir delapan tahun ini. Lama? Ah, tidak juga. Kami memang dipertemukan pada saat pertama kali kami merasakan indahnya menjadi seorang siswi SMA, tapi saya merasa peristiwa itu baru terjadi setahun yang lalu.

Diah Lusita Sari dan Diaswuri Prawulaningsih. Dua perempuan ini yang membuat dunia SMA saya menjadi lebih berwarna, bahkan sampai detik ini. Saya tidak pernah menyangka akan sedekat ini dengan mereka berdua. Tidak hanya mereka, bahkan orang tua kami pun saling mengenal. Saling kunjung mengunjungi jika hari raya masing-masing tiba.

Tahun pertama di SMA, saya memang tidak sekelas dengan mereka berdua, akan tetapi kami saling mengenal satu sama lain. Hal ini disebabkan karena kelas kami yang bersebelahan, membuat kami sering bertemu di depan kelas ketika kami menghabiskan jam istirahat. Pada tahun itu, kami hanya sebatas bertegur sapa dan tak banyak waktu kami habiskan bersama.

Memasuki tahun kedua, saya terdaftar pada satu kelas yang hampir semua muridnya bukan berasal dari kelas saya sebelumnya. Bingung? Pastinya! Karena pada hari pertama di kelas 2 tersebut saya harus menentukan siapa yang akan duduk satu meja dengan saya selama satu tahun ke depan. Sekali salah pilih, maka hidup saya selama satu tahun ke depan akan suram *maaf, sepertinya ini agak berlebihan* :P

Pagi itu saya datang agak terlambat. Teman-teman saya yang lain telah menemukan tempat duduk paling strategis menurut mereka masing-masing, ditambah lagi teman satu meja sudah mereka dapatkan. Hal pertama yang saya lakukan pagi itu adalah mencari tempat duduk. Setelah mendapatkan tempat duduk, lantas apa? Harusnya saya mencari teman satu meja, tapi berhubung belum ada wajah yang saya kenal di ruangan itu. Ditambah lagi, mereka semua sudah memiliki teman satu meja.

Saya yang memang sedari dulu mudah panik, mulai bingung mencari siapa yang akan mengisi hari-hari saya selama tahun ke depan. Dias yang mengetahui kepanikan saya, mulai menyapa.

“Lo belum dapet temen, bew?” *’bew’, kependekan dari Jebew, nama panggilan teman-teman SMA saya*

“Eerrr… Belum. Bingung nih…” saya menjawabnya sambil meringis *baca:berharap dicarikan teman*

“Tunggu aja. Lusi bentar lagi juga dateng, kayaknya dia belum dapet temen juga deh.”

Wuuuiiiihhh… Hati saya langsung adem ayem mendengarnya. Senyum mengembang dengan lebarnya di wajah saya. Tak lama, datang juga perempuan yang saya nanti-nanti. Tanpa babibu, langsung saya tanya apakah dia bersedia duduk satu meja dengan saya. Karena tidak ada pilihan lain, jadilah dia duduk dengan saya selama satu tahun itu.

Kedekatan saya dengan Dias dan Lusi berawal dari satu aktivitas yang kami ikuti bersama di sekolah. Panjat dinding. Eits, jangan tertawa dulu. Tentu saja ini bukan panjat dinding yang bertujuan agar siswa-siswi semakin mahir melompati tembok belakang sekolah untuk bolos. Ini adalah olahraga panjat dinding yang kala itu sedang mencari atlit-atlit unutk diberangkatkan pada PRAPON 2004 di Palembang. Berhubung pada saat itu kami bertiga penasaran bagaimana rasanya memanjat tebing-tebing tiruan itu, jadilah kami tercebur dalam kegiatan itu sampai pertengahan kelas 3.

Satu tahun yang saya kira berjalan dengan baik, ternyata tak semulus yang saya harapkan. Saya dan Lusi beberapa terlibat perselisihan kecil yang membuat kami saling berdiam diri. Akan tetapi, ini tidak berlangsung lama. Karena memang masalah yang timbul hanya sebatas salah paham. Jika kami berdua sudah saling diam, tinggalah Dias yang akan repot mendamaikan kami.

Tahun ketiga, saya dan Lusi mendapatkan kelas yang sama, jadi tak pelak lagi kami pun duduk bersama. Sayang, di tahun terakhir ini kami berpisah kelas dengan Dias. Tapi ini bukan berarti kami tidak bisa dekat, justru sebaliknya. Kami lebih sering bersama, ke kantin bersama, pulang sekolah bersama, dan tentu saja bolos bersama. :mrgreen:

Kuliah membuat kami semakin terpisah lebih jauh. Terlebih lagi, saya harus menempuh kuliah di Jogja *sampai dua tahun ke depan nanti*. Kami hilang kontak? Tentu saja tidak. Apa gunanya teknologi canggih yang namanya telpon genggam itu :D Hampir semua perbincangan kami lakukan melalui telpon, dan pesan singkat. Jika saya pulang ke rumah, sudah dapat dipastikan, mereka berdua akan menginap di rumah saya, dan kami pun menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling bercerita *bergosip* tentang diri masing-masing. :P

Itulah mereka, yang sampai hari ini selalu ada buat saya, begitu juga sebaliknya. Saya berharap, kami bisa terus berjodoh sampai kami dipisahkan kematian. :)